Tags

, , ,

Perjalanan menuju Sungai Rumbiya menghabiskan waktu lima jam sejak dari titik keberangkatan kami di base camp. Jalur yang dilalui untuk menuju tempat tujuan kami tersebut. Jalu r yang ditempuh oleh Strada yaitu melalui jalinsum Medan – Pekanbaru. Tidak berbeda jauh dengan jalur lintas penghubung provinsi yang ada di Jawa, lebar jalan di sini pun tidak terllau luas, cukup untuk dilewati oleh truk berukuran besar di tiap lajurnya. Hampir sepanjang perjalanan dari utara menuju selatan (Limapuluh – Kota Pinang) didominasi oleh daerah datar dengan jalan yang realtif lurus. Namun di beberapa tempat pun bisa dijumpai jalur jalan yang berkelok mengikuti bentukan morfologi setempat. Kasus ini dapat dijumpai di jalur setelah melewati Kabupaten Labuhan Batu Selatan. Di Aek Natas kita dapat menemui fenomena khas yang biasa ditemui di daerah berkapur yaitu bukit yang menjulang sendiri diantara dataran rendah di sekitarnya. Selama dalam perjalanan, dari sisi penggunaan tanah yang dimanfaatkan oleh manusia di sisi kanan dan kiri jalinsum, secara garis besar berdasarkan pengamatan perjalanan dapat dijumpai tiga jenis yaitu permukiman yang memanjang selaras jalur jalinsum, perkebunan kelapa sawit yang meluas dari sisi luar jalan hingga jauh ke pedalaman menjauhi jalinsum, kebun karet (sama seperti kebun sawit lokasinya), serta tegalan. Namun, berdasarkan pengamatan mayoritas porsi penggunaan tanah di atas yaitu perkebunana kelapa sawit. Fenomena jalan sebagai aspek penarik kegiatan penduduk amat jelas terlihat dalam perjalanan kali ini. Hal ini pun lazim dijumpai di beberapa lokasi yang ada di hampir seluruh dunia juga di Indonesia. Ketergantungan pusat kegiatan manusia terhadap jalan ini dapat dimaklumi jika dilihat dari aspek mobilitas manusia dimana untuk bergerak memenuhi kebutuhannya, manusia membutuhkan jalan sebagai alur perpindahan geraknya dengan memakai moda transportasi tertentu. Namun begitu, aspek lokasi permukiman sebagai pusat kegiatan seperti yang terdapat di teori lokasi Van Thunen bisa dikatakan tidak berlaku pada kasus seperti yang ada di sini. Adapun faktor yang mungkin berpengaruh yaitu keberadaan kebun sebagai faktor penarik permukiman, bukan permukiman yang menjadi faktor penariknya. Adanya perkebunan, yang merupakan wujud investasi dari pemerintah ataupun swasta menjadi faktor utama keberadaan permukiman yang cenderung mengelompok membentuk kantong-kantong permukiman (emplasment). Di sekitar kantong-kantong permukiman tersebut, tidak ada kita temukan penggunaan tanah yang bersifat intensif seperti lahan pertanian padi. Yang dapat kita temui yaitu hamparan luas perkebunan yang ijo royo-royo. Lebih jauh mengenai pola permukiman yang ada di perkebunan, perdesaan, maupun perkotaan dapat didalami lebih jauh diantaranya dengan membaca karya I Made Sandy seperti Geografi Regional Indonesia, Pembangunan Wilayah dan Penggunaan Tanah Berencana, serta Penggunaan Tanah di Indonesia. #seirumbiya280711