Opini

Puasa yang berbeda

Alhamdulillah, tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh saya bila pada puasa tahun ini dijalani di pulau seberang. Namun karena tuntutan profesi semua harus dijalani apa adanya.

Baru pada puasa kali ini, sama sekali dari awal hingga hari ke-17, saya tidak merasakan nikmatnya bersahur dan berbuka bersama kedua orang tua dan saudara kandung di Bogor. Semua rasa rindu hanya bisa diobati dengan melakukan percakapan jarak jauh via telepon seluler saja.

Satu-satunya kesempatan laiknya bersahur dan berbuka bersama keluarga, akhirnya saya rasakan juga ketika menyambangi salah seorang bibi yang berada di Kota Medan. Setidaknya, dengan bersahur dan berbuka bersama mereka, rasa rindu untuk berbuka bersama dengan keluarga di Bogor bisa terobati.

Kebanyakan berpuasa, termasuk sahur dan berbuka, dijalani di Multihousing tercinta yang dihuni oleh 9 orang lelaki lajang dari ragam daerah di Indonesia, mayoritas berasal dari perguruan tinggi USU, UI, UGM, serta UPI. Mulai sahur sampai berbuka dijalani bersama. Sekilas, saya teringat akan kehidupan kost mahasiswa. Mungkin karena semuanya lajang jadi agak merasa tidak asing lagi dengan keseharian yang dijalani di Multihousing ini.

#bahlias17082011 (Semoga Indonesia makin Jaya! Semoga diri ini bisa Bekerja Untuk Indonesia 🙂 )

Advertisements
Catatan Perjalanan · Opini

Filosofi hidup

Sumatra adalah nama sebuah pulau demikian pula dengan Jawa. Keduanya memiliki hampir kesamaan kondisi fisik dimana dari dataran rendah hingga dataran tinggi dimiliki. Yang membedakan paling hanya sekat budaya yang agak berbeda.

Fenomena menarik yang dapat ditemui mungkin di hampir seluruh Sumatra yaitu keberadaan orang Jawa. Hal ini dapat kita lihat dan buktikan sendiri ketika berkunjung ke daerah di Sumatra. Lazim kita temui orang-orang berkomunikasi dengan bahasa Jawa dalam kesehariannya sehingga mungkin agak sedikit mengherankan jika seharusnya yang terbayang oleh kita ketika berkunjung ke Sumatra kita mendengar logat penduduk yang cenderung ke-Batak-kan, ke-Padang-an, ke-Melayu-an, dan seterusnya pada faktanya yang didengar oleh kita yaitu penduduk yang berkomunikasi dengan bahasa ibunya (baca: Jawa).

Ada beberapa pandangan yang dapat kita temui dalam masyarakat. Sepengetahuan penulis, hampir tiap suku memiliki kecenderungannya untuk melakukan migrasi (baca: merantau). Sebagai contoh, dalam lingkungan tempat tinggal penulis di Bogor, terdapat suatu kecenderungan yang lazim (walau tidak seluruhnya) bahwasanya orang Sunda  hampir jarang ditemui yang melakukan migrasi. Makanya, kadang kita sering mendengar istilah yang berkembang di masyarakat bahwa langkahnya orang Sunda pendek namun langkahnya orang Jawa panjang. Pada faktanya, penulis mendapati bahwa memang benar kita dapat dengan mudahnya menemui orang Jawa di hampir seluruh daerah di Indonesia.

Bisa jadi kecenderungan untuk melakukan perpindahan ini didapat secara turun-temurun dari orang tuanya dengan cara pewarisan nilai dalam keluarga inti. Hal ini bisa dimaklumi karena pengaruh didikan keluarga inti pada seorang anak amat sangat berpengaruh. Bisa jadi jka orang tuanya adalah perantau bisa dipastikan si anak kelak akan menjadi seorang perantau juga (bisa iya dan tidak).

Namun bisa juga kecenderungan untuk berpindah atau tidaknya seseorang juga datang dari motif si orang tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Faktor ini tak bisa dipungkiri dan merupakan bagian dari insting manusia untuk bertahan hidup. Kasarnya mungkin bisa kita ambil dari istilah “survival of the fittest”.

Kesimpulan dari tulisan ini mungkin tidak menjawab dari judul tulisan yang berada di bagian paling atas. Intinya adalah, berpindah tidaknya seseorang pasti terkait dengan kebutuhan individu tersebut melakukan perpindahan untuk MEMENUHI kebutuhannya.

#seirumbiya280711

Catatan Perjalanan

Sekilas Penggunaan Tanah di Jalinsum

Perjalanan menuju Sungai Rumbiya menghabiskan waktu lima jam sejak dari titik keberangkatan kami di base camp. Jalur yang dilalui untuk menuju tempat tujuan kami tersebut. Jalu r yang ditempuh oleh Strada yaitu melalui jalinsum Medan – Pekanbaru. Tidak berbeda jauh dengan jalur lintas penghubung provinsi yang ada di Jawa, lebar jalan di sini pun tidak terllau luas, cukup untuk dilewati oleh truk berukuran besar di tiap lajurnya. Hampir sepanjang perjalanan dari utara menuju selatan (Limapuluh – Kota Pinang) didominasi oleh daerah datar dengan jalan yang realtif lurus. Namun di beberapa tempat pun bisa dijumpai jalur jalan yang berkelok mengikuti bentukan morfologi setempat. Kasus ini dapat dijumpai di jalur setelah melewati Kabupaten Labuhan Batu Selatan. Di Aek Natas kita dapat menemui fenomena khas yang biasa ditemui di daerah berkapur yaitu bukit yang menjulang sendiri diantara dataran rendah di sekitarnya. Selama dalam perjalanan, dari sisi penggunaan tanah yang dimanfaatkan oleh manusia di sisi kanan dan kiri jalinsum, secara garis besar berdasarkan pengamatan perjalanan dapat dijumpai tiga jenis yaitu permukiman yang memanjang selaras jalur jalinsum, perkebunan kelapa sawit yang meluas dari sisi luar jalan hingga jauh ke pedalaman menjauhi jalinsum, kebun karet (sama seperti kebun sawit lokasinya), serta tegalan. Namun, berdasarkan pengamatan mayoritas porsi penggunaan tanah di atas yaitu perkebunana kelapa sawit. Fenomena jalan sebagai aspek penarik kegiatan penduduk amat jelas terlihat dalam perjalanan kali ini. Hal ini pun lazim dijumpai di beberapa lokasi yang ada di hampir seluruh dunia juga di Indonesia. Ketergantungan pusat kegiatan manusia terhadap jalan ini dapat dimaklumi jika dilihat dari aspek mobilitas manusia dimana untuk bergerak memenuhi kebutuhannya, manusia membutuhkan jalan sebagai alur perpindahan geraknya dengan memakai moda transportasi tertentu. Namun begitu, aspek lokasi permukiman sebagai pusat kegiatan seperti yang terdapat di teori lokasi Van Thunen bisa dikatakan tidak berlaku pada kasus seperti yang ada di sini. Adapun faktor yang mungkin berpengaruh yaitu keberadaan kebun sebagai faktor penarik permukiman, bukan permukiman yang menjadi faktor penariknya. Adanya perkebunan, yang merupakan wujud investasi dari pemerintah ataupun swasta menjadi faktor utama keberadaan permukiman yang cenderung mengelompok membentuk kantong-kantong permukiman (emplasment). Di sekitar kantong-kantong permukiman tersebut, tidak ada kita temukan penggunaan tanah yang bersifat intensif seperti lahan pertanian padi. Yang dapat kita temui yaitu hamparan luas perkebunan yang ijo royo-royo. Lebih jauh mengenai pola permukiman yang ada di perkebunan, perdesaan, maupun perkotaan dapat didalami lebih jauh diantaranya dengan membaca karya I Made Sandy seperti Geografi Regional Indonesia, Pembangunan Wilayah dan Penggunaan Tanah Berencana, serta Penggunaan Tanah di Indonesia. #seirumbiya280711