Tags

Bangunan tersebut tampak terpencil, terletak di samping reservoir yang airnya dipakai untuk mengaliri air untuk kebutuhan para penghuni Multihousing dan rumah staf. Satu ruangan paling hanya memiliki ukuran 4×4 meter, dengan 4 meja kantor beserta kursinya. Pada satu meja tampak jelas kulit kayunya mengelupas. Walaupun memakai pendingin ruangan, alat pendingin keluaran lawas pun masih difungsikan untuk mengusir hawa panas yang menyeruak datang di siang hari atau pun sore hari. Di ruangan sebelahnya, terdapat dua meja kantor yang ditempati oleh dua orang hebat yang mengurusi segala kerumitan data yang dimudahkan dengan sistem basisdata.

Di situlah awal penempaan yang terkesan aneh. Setiap hari dibebaskan seperti anak ayam kehilangan induk. Jika tidak sampai berpikir bahwa keberadaan saat ini sebagai petualang ilmu dan pengalaman, sudah pasti ruangan tersebut menjadi kamar mayat penyesalan seumur hidup. Tersedia beberapa buku penuntun terbitan New York, dengan kulit yang tampak usang namun berisi lembaran-lembaran ilmu untuk melihat tempat hidup manusia dari sisi yang berbeda berkat sentuhan yang bernama teknologi.

Hari demi hari berlalu, masih sedikit ilmu praktis yang didalami. Jika kebosanan menerpa, berkelilinglah menuju pusat peradaban setempat yang dapat ditempuh selama tujuh menit dengan menggunakan ‘kereta’ pinjaman. Jika kebetulan sedang ‘mencari angin’ di malam hari, maka melihat keramaian lapo menjadi hal yang lumrah. Bahkan di sudut-sudut kota yang suram, praktik haram pun ada, seperti yang terdapat di kota-kota besar.

Pagi itu terasa berbeda. Dalam satu hari penuh, bahkan lebih, akan menghabiskan waktu di dalam ruangan kecil berkapasitas 50 orang. Dan yang lebih penting, tidak ada lagi daily report dengan isi yang dikarang-karang.

Diawali dengan waktu berkopi (coffee time)selama satu jam, seonggok roti menjadi korban rongga mulut dilanjutkan dengan pelancaran kerongkongan dengan segelas kopi pahit. Pahitnya kopi menjadi pahit getirnya rasa untuk berkehidupan yang lebih layak di tanah yang sudah dijanjikan ini. Pertemuan riset tahunan itu pun dimulai. Pertemuan dihadiri oleh satu orang direktur riset di Riau, lima orang bergelar doktor dari negeri nun jauh, beberapa periset ulung dari stasiun riset setempat, serta para peserta lainnya termasuk saya.

Pertemuan riset dibuka oleh direktur riset setempat, dilanjutkan dengan penyajian presentasi oleh beberapa presenter dalam bidang agronomi serta perlindungan tanaman. Amat menarik presentasi berjalan, ditiap akhir presentasi akan dilanjutkan dengan tanya jawab selama beberapa menit. Sungguh menarik, dialog dan debat akademis terjadi selama hari itu. Pertanyaan yang diajukan bukanlah pertanyaan formalitas melainkan pertanyaan yang menuntut jawaban dengan nalar logika tanpa mengindahkan kaidah berpikir ilmiah. Yang amat menarik, karena diwajibkan menggunakan bahasa Inggris, maka nuansa yang tercipta amat terasa ilmiah. Penuh dengan ilmu dan kadang diselingi perdebatan, namun dengan cerdasnya sang direktur riset mampu menengahkan permasalahan dengan bijak.

Selanjutnya penyajian hasil riset atau kemajuan yang telah dicapai oleh riset disajikan seperti layaknya pelaporan pertanggung jawaban. Berondongan pertanyaan, komentar, atau masukan silih berganti ditujukan kepada penyaji. Semuanya berlangsung tertib, kadang diselingi oleh candaan yang dilontarkan oleh para jajaran ahli atau konsultan yang berkompeten di bidangnya.

#bahlias150611