Dibalik Lensa

Tugu Monas


Monas

Tugu monas yang angkuh di malam hari

(nb: noise sdikit mganggu hasil gambar, masih kamera saku :p)

Advertisements
Catatan Perjalanan

Lomie legendaris dari Suryakencana

Lomie adalah semacam makanan berbahan dasar mie yang dipadukan dengan sayur beserta gundik-gundiknya. Tak berbeda jauh dengan bakmie, lomie memiliki komposisi universal mie+kuah+pelengkap (hampir dimana pun memiliki komposisi dasar seperti ini). Rasa mie pada lomie tak berbeda jauh dengan rasa mie yang ada pada bakmie, yang membedakan hanya teksturnya yang cenderung kaku (mirip seperti mie yang digunakan pada sotomie). Kuah yang ada pada Lomie (terutama buatan Mang Epen) dibuat khusus, bukan sembarang kuah. Kuah dibuat dari campuran rempah-rempah yang dipadukan dengan ‘bubur’ kentang sehingga campurannya memiliki viskositas yang cukup tinggi alias kental. Adapun sayur dan gundik-gundiknya biasanya terdiri dari kangkung, termasuk bagian batangnya yang renyah ketika dikunyah serta bagian daunnya. Sumber protein hewani dari Lomie biasanya didapatkan dari bakso yang disertakan dalam satu paket lomie lengkap. Biasanya bakso dicampur dengan urat/otot sapi atau daging/tetelan sapi yang lumat menjadi satu dalam wujud bulatan bakso.

Lomie Mang Epen (gambar di atas) terdapat di bilangan Suryakencana, tak jauh dari pusat Kota Bogor. Lomie ini merupakan lomie legendaris yang telah ada dan berjualan selama puluhan tahun di Kelurahan Sukamulya. Mengingat lomie saat ini cukup jarang ditemui, maka Lomie Mang Epen bisa menjadi alternatif para penikmat kuliner lomie. Warung lomie ini terletak di pinggir jalan utama kelurahan, jika kesulitan menemuinya tinggal tanyakan kepada penduduk setempat yang sudah pasti mengetahui warung lomie ini.

Berdasarkan penuturan sahabat yang merekomendasikan untuk mencicipi lomie ini, rasa lomie yang ada tidak berubah sama sekali selama beliau lahir dan hidup di bumi Sukamulya. Hal ini bisa jadi karena MAng Epen, sang masterpiece lomie, memelihara resep lomie selama puluhan tahun (bisa jadi). Bahkan menurut sahabat saya, jikalau pun Mang Epen sedang berhalangan melayani pembeli karena sedang pergi (solat, istirahat, dsb)–maka sang istri Mang Epen yang membuatkan lomie- rasanya akan berbeda dengan racikan Mang Epen. Percaya atau tidak.

Ada lagi satu keunikan Lomie Mang Epen. Hal yang unik adalah harga. Jika yang memebeli lomie adalah wisatawan mancanegara (maksudnya warga di luar Kel Sukamulya) maka tarif lomie adalah 5K alias lima ribu rupiah. Namun jika yang membeli adalah wisatawan domestik (maksudnya warga Sukamulya dan sekitarnya) harga yang dipatok bisa hingga 3K alias tiga ribu rupiah. Bisa jadi perbedaan harga yang lebih mahal yang dibebankan kepada wisatawan mancanegara ini karena membebankan pajak penghasilan yang lebih besar, haha

catatan 030311

Catatan Perjalanan

Tapos, Cibedug

Pagi yang cerah 040411

Selesai menunaikan keperluan di beberapa kantor bank, kuda besi berwarna hitam yang kutunggangi langsung menuju Cibedug. Penasaran karena seingatku belum pernah menuju ke sana, tanpa berpikir panjang, pedal gas tangan langsung kutarik sedalamnya melintasi jalan yang ingin kutempuh. Jalan relatif bagus walaupun di beberapa tempat seperti di dekat dengan SMP Banjarwaru, jalan aspal bergelombang tidak karuan. Jalan dengan kondisi seperti ini juga dapat ditemui di beberapa tempat tertentu.

Karena jalanan menuju perbukitan, sudah pasti jalanan naik turun. Sesekali terlihat truk pengangkut terdengar deruan mesinnya karena tak kuasa melawan gravitasi. Hingga akhirnya sampai ujung jalan, terlihat gerbang yang tertutup untuk umum. Kubelokkan si kuda besi ke arah kanan gerbang yang ternyata gerbangnya terbuka. Terlihat jejeran rumah pegawai yang sebagian kosong dan sebagian lagi terisi oleh penghuninya. Jalur yang kulalui akhirnya masuk ke semacam jalan menuju lokasi wisata seperti yang pernah kukunjungi di Salak Endah, TNBBS, atau Lembang. Jalan hanya selebar angkot. Kanan kiri jalan adalah dinding bukit atau jurang yang dalam. Banyak terlihat Pohon Cemara serta pohon lainnya yang berdaun jarum seperti pinus. Ketika kuhirup udara, waaw segarnya bukan main. Sejuk dan teduh. Di beberapa tikungan kutemui beberapa anak muda seumuran SMA sedang nongkrong atau berpacaran.

Akhirnya kuputar balik arah melajunya si kuda besiku karena terlihat papan larangan untuk melanjutkan perjalanan. Selain karena melihat papan tersebut, suasana yang sepi dan mistis semakin meyakinkanku untuk pergi dari tempat tersebut.

Lain kali, akan kujelajahi Tapos lebih jauh lagi.