Tags

, , ,

Kepenatan merupakan hal yang mungkin sekali dirasakan oleh penduduk urban. Hal ini bisa dikarenakan tekanan perkerjaan disamping polusi udara yang dihirup oleh para penduduk setiap harinya di jalanan. Apa salahnya sesekali menyempatkan menyambangi air terjun untuk melepas penat dari hingar bingarnya kehidupan urban. Mengunjungi curug merupakan salah satu pilihan sabagai sarana refreshing.

Curug Nangka, merupakan salah satu dari sekian banyak curug yang terdapat di Bogor dengan potensi alam yang cukup indah dengan suasana sejuk nan hijau serta aksesibilitas yang mudah dijangkau. Curug Nangka terletak tidak jauh dari pusat Kota Bogor yang dapat ditempuh dengan menggunakan angkutan umum. Dari Stasiun Bogor perjalanan dapat dilanjutkan dengan menumpang angkot sampai BTM atau jika hobi berjalan kaki tak ada salahnya menyusuri lingkar Kebun Raya Bogor sampai BTM sambil menikmati suasana pusat kota yang diliputi oleh rerimbunan pohon-pohon besar di bagian dalam KRB. Dari BTM, perjalanan menuju Curug Nangka disambung dengan menaiki angkot Ciapus. Dengan kondisi jalan yang sudah relatif baik, tidak seperti 5-6 tahun yang lalu, perjalanan memakan waktu sekitar 30-50 menit saja.  Karena banyak pengunjung yang mengunjungi Curug Nangka, maka para supir angkot sudah hapal betul dimana harus menurunkan penumpang untuk menuju tempat wisata tersebut.

Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki atau naik ojek. Namun, karena jarak yang relatif tidak jauh sebaiknya ditempuh dengan berjalan kaki saja. Perjalanan dengan jalan kaki hanya ditempuh dengan waktu tak lebih dari 15 menit sampai gerbang karcis masuk tempat wisata. Biaya karcis masuk hanya IDR 5000 termasuk asuransi. Sampai gerbang perjalanan dilanjutkan menuju objek utama yaitu curug. Mulai dari pintu gerbang hingga Curug Nangka dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama 30 menit (jalan santai). Selama perjalanan kita disuguhi oleh pemandangan nan ijo royo-royo serta warung-warung makan setempat yang dikelola warga untuk sekedar melepas penat selama berjalan menuju curug.

Adapun kondisi jalan menuju curug memiliki kualitas yang cukup baik walaupun di beberapa lokasi ada yang tergerus air setelah hujan sehingga gak licin ketika dilewati. Selebihnya cukup aman dilewati, tentunya dengan hati-hati. Dalam perjalanan kita akan menemui beberapa gubuk yang menjajakan makanan seperti kopi panas, snack, atau mie siap santap. Keberadaan gubuk penjaja makanan ini cukup membantu jika kita membutuhkan penganan untuk menghangatkan tubuh atau sekedar berteduh ketika hujan. Tak jarang juga gubuk penjaja tersebut menyewakan kolor untuk dipakai para pengunjung yang kebetulan tidak membawa ketika berkunjung.

Selama perjalanan menuju curug utama, kita melintasi pinggiran alias igiran sungai yang merupakan dasar dari lembah. Kita bisa melihat bukit yang ada di sisi sebelah kanan maupun kiri kita. Tak jarang terlihat para penghuni yang memiliki buntut panjang dan terkadang mengambil makanan para pengunjung, yaitu monyet yang hidup di sekitar curug. Sesekali para monyet melakukan panggilan-panggilan nyaring yang tampaknya ditujukan pada monyet lainnya. Juga, sering terdengar berbagai macam kicauan burung yang hidup dengan masyuknya sehingga perpaduan antara lengkingan monyet, kicauan burung, dan deburan air curug menambah semarak dan memanjakan telinga para pengunjung yang hadir.

Curug utama berada tepat di ujung lembah sehingga setiap pengunjung yang akan menuju ke situ pasti tidak akan menyasar. Dengan ketinggian lebih dari 20 meter, air yang turun dari bagian atas curug menuju bagian dasar akan terdengar bergemuruh, apalagi jika kondisi debit air puncak maka tampias dari air curug akan mengenai kita yang berada di radius + 15 meter dari dasar cucuran air curug. Pada sisi bagian vertikal yang membangun badan curug Nangka, terlihat batuan beku yang strukturnya kompak dan tampaknya curug ini terbentuk karena adanya suatu patahan. Disini kita bisa bermain air sepuasnya dengan teman-teman kita. Airnya yang dingin ditambah dengan suhu yang sejuk, menambah nikmat suasana bagi para pencari ketenangan.