Tags

, , ,

Pendahuluan

Transportasi adalah kegiatan pemindahan penumpang dan barang dari satu tempat ke tempat lain[1]. Saat ini, transportasi sudah menjadi bagian yang penting dalam kehidupan manusia karena kebutuhan yang dibutuhkan manusia tidak berada dalam satu tempat sehingga perpindahan suatu barang atau penumpang menjadi suatu kebutuhan untuk memenuhi kebutuhannya.

Dalam sistem transportasi terdapat dua aspek penting yaitu aspek sarana dan aspek prasarana[2]. Aspek sarana berkaitan dengan moda transportasi yang digunakan. Hal ini meliputi mobil, kereta api, kapal laut, dan pesawat terbang. Aspek prasarana berkaitan dengan infrastruktur yang ada untuk mendukung aspek sarana dalam kelancaran pergerakannya. Hal ini termasuk jalan raya, jalan rel, dermaga kapal, terminal, bandara, dan stasiun.

Untuk melihat interaksi keruangan pada kota-kota yang ada di Provinsi Bengkulu dapat digunakan analisis jaringan dan gravitasi. Dengan menggunakan cara ini akan dapat dilihat interaksi antar kota yang terjadi berdasarkan analisis jaringan atau gravitasi. Dalam melakukan analisis tersebut, menggunakan prasarana transportasi yang berupa jalan. Jalan disini merupakan penghubung dan pembentuk konektivitas dalam suatu jaringan jalan transportasi.

Gambaran Umum Provinsi Bengkulu

Provinsi Bengkulu terletak di bagian barat Sumatra yang bentuk provinsinya memanjang dari barat laut hingga tenggara yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia di sebelah baratnya. Letak astronomis Provinsi Bengkulu yaitu 2o25′ LS – 5o00′ LS dan 101o20′ BT – 103o45′ BT. Provinsi ini beribukota di Bengkulu dan memiliki satu kota dan delapan kabupaten. Kabupatennya terdiri dari Mukomuko, Bengkulu Utara, Lebong, Rejang Lebong, Kepahiang, Seluma, Bengkulu Selatan, dan Kaur.

Provinsi Bengkulu secara fisiografi berbatasan langsung dengan Bukit Barisan yang berada di bagian timurnya. Sehingga antara pantai barat dengan batas Bengkulu di bagian timurnya merupakan wilayah yang sempit memanjang. Keadaan fisik Bengkulu yang demikian membuat akses keluar dan masuk transportasi terbatas. hal ini pula yang membuat jalur hubungan Provinsi Bengkulu dengan tetangganya di sebelah timur hanya memiliki empat akses jalan kolektor dan satu akses jalan arteri.

Kondisi Fisik Jalan Berdasarkan Wewenang Pembinaan

Menurut Dirjen Perhubungan Darat Departemen Perhubungan, informasi jalan di Bengkulu berdasarkan wewenang pembinaannya terbagi atas jalan nasional, jalan provinsi, dan jalan kabupaten. Total panjang jalan nasional di Provinsi Bengkulu adalah 736,4 km dengan rincian 701 km dalam keadaan mantap; 517 km kondisi baik; 183 km kondisi sedang; 35,4 kondisi tidak mantap; 20,8 km kondisi rusak ringan; dan 14,6 km kondisi rusak berat. Total jalan provinsi yaitu 1500 km dengan rincian 783 km kondisi mantap; 183 km kondisi baik; 600 km kondisi sedang; 716 km kondisi tidak mantap; 214 km kondisi rusak ringan; dan 502 km kondisi rusak berat. Total jalan kabupaten adalah 3.761 km dengan rincian 527 km kondisi mantap; 244 km kondisi baik; 283 km kondisi sedang; 3.234 km kondisi tidak mantap; 3.218 km kondisi rusak ringan; dan 15,38 km dengan kondisi rusak berat.

Jaringan Jalan Berdasarkan Fungsi

Berdasarkan fungsinya jalan dibedakan atas jalan arteri, jalan kolektor, dan jalan lokal. Jalan arteri di Provinsi Bengkulu memiliki panjang rute 115 km. Jalan arteri ini terdapat di Kota Bengkulu dan jalur jalan yang menghubungkan Kota Bengkulu menuju Lubuklinggau yang melewati kota kabupaten Kepahiang dan Curup.

Jalan kolektor di Provinsi Bengkulu memiliki panjang jalan 762 km. Jalan kolektor ini terdapat memanjang di sepanjang pantai barat Provinsi Bengkulu serta di bagian tengah provinsi. Terdapat beberapa jalan kolektor yang saling tegak lurus menuju ke bagian timur batas provinsi (menuju Provinsi Sumatera Selatan)[3].

Jalan lokal di Provinsi Bengkulu memiliki total panjang jalan 1.568 km. jalan lokal menghubungkan antar tempat yang memiliki jarak relatif pendek. Jalan lokal terdapat di seluruh bagian provinsi. Jika dilihat dari jaringan jalan lokalnya, banyak terdapat di bagian tengah hingga ke selatan provinsi. Hal ini mengindikasikan di bagian tersebut terdapat permukiman penduduk.

Teori Graf

Teori graf merupakan cabang dari matematika dimana suatu jaringan dapat dilihat dari topologinya, yaitu dengan mempelajari suatu jaringan sebagai suatu sistem titik (nodes atau vertices) dan mata rantai (links / edge)[4]. Penerapannya dalam suatu pengguaan dalam analisis, titik merepresentasikan sebuah kota sedangkan mata rantai merepresentasikan sebuah jalan.

Contoh gambar di atas menggambarkan dua unsur yang ada dalam topologi, yaitu titik dan mata rantai. Dalam penulisan ini, untuk meihat interaksi keruangan melalui jaringan transportasi yang ada, maka node bisa diibaratkan sebagai sebuah kota sedangkan link sebagai suatu garis yang menghubungkan antar node, merupakan sebuah jalan. 

Dalam aplikasinya dalam tulisan ini penulis menggunakan analisis konektivitas untuk melihat aksesibilitas yang ada di masing-masing kota. Dalam prosesnya, digunakan matriks konektivitas untuk membandingkan tingkat aksesibilitas antara masing-masing kota yang ada di Provinsi Bengkulu. Dalam analisis matriks konektivitas ini yang dipakai yaitu link terdekat yang menghubungkan antar kedua titik yang dihitung dengan angka berdasarkan jumlah segmen garis yang dilaluinya. Setelah dilakukan proses kalkulasi, akan didapatkan jumlah dari segmen-segmen yang dilalui. Jumlah nilai dari segmen dari semua kota akan didapatkan nilai dispersi[1]. Nilai dispersi ini menunjukkan ukuran jumlah segmen (link) yang bisa digunakan untuk membandingkan antar dua wilayah. Namun karena dalam tulisan ini hanya menggunakan satu wilayah, penggunaan nilai dispersi ini diabaikan.

Penerapan Teori Graf di Provinsi Bengkulu dan Implikasinya

Pada gambar 2 di atas ditampilkan model jaringan jalan yang ada di Provinsi Bengkulu. Gambar di atas akan menggambarkan kondisi jaringan jalan yang ada di Provinsi Bengkulu. Link-link yang ada dan dipakai dalam model di atas diasumsikan dari jaringan jalan yang ada dalam peta Provinsi Bengkulu terbitan Bakosurtanal.

Pada model di atas, tidak semua kota terhubung ke banyak kota (atau memiliki dua link). Hal ini diasumsikan dan berdasar data jaringan jalan yang ada. Sebagai contoh, yaitu antara Kota Tais dengan Kepahiang. Untuk menuju ke Kota Tais ke Kepahiang, tidak ada jalan yang langsung menghubungkan karena memang tidak terdapat akses jalan menuju ke sana. Sehingga, untuk menuju ke Kota Kepahiang harus menuju Kota Bengkulu lalu ke Kepahiang. Kasus serupa dapat ditemukan pada Kota Curup dan Argamakmur.

Tidak adanya jalan tersebut dapat dijelaskan melalui kondisi fisik Provinsi Bengkulu. Batas Provinsi Bengkulu di bagian utara dan timur lautnya merupakan jajaran Bukit Barisan yang sejalur dengan batas provinsi. Jajaran Bukit Barisan tersebut merupakan bentukan yang disebabkan oleh Patahan Semangka yang memanjang dari ujung utara Pulau Sumatera hingga di ujung selatan Pulau Sumatera. Keberadaan Bukit Barisan tersebut menjadi faktor penghambat fisik (physical constraints) dalam merancang jalur-jalur transportasi. Contoh kasus seperti dijelaskan sebelumnya, merupakan gambaran fakta bahwa untuk membangun jalur-jalur transportasi di Provinsi Bengkulu, terutama yang berada di bagian Bukit Barisan, amat sulit sehingga dibutuhkan biaya yang mahal.

Matriks Konektivitas di Provinsi Bengkulu

Kota M TE A C B K TA M B Jumlah
M 0 3 2 3 1 2 2 3 4 20
TE 3 0 1 1 2 2 3 4 5 21
A 2 1 0 2 1 1 2 3 4 16
C 3 1 2 0 2 1 3 4 5 21
B 1 2 1 2 0 1 1 2 3 13
K 2 2 1 1 1 0 2 3 4 16
TA 2 3 2 3 1 2 0 1 2 16
M 3 4 3 4 2 3 1 0 1 21
BI 4 5 4 5 3 4 2 1 0 28
Jumlah 172

Pada tabel di atas memperlihatkan matriks konektivitas yang ada di Provinsi Bengkulu antar kota yang ada. Angka yang tertera pada kolom menunjukkan jumlah segmen (link) yang dibutuhkan untuk menuju ke kota yang dituju. Angka yang dimaksud diambil berdasarkan jumlah terpendek yang mampu dilalui.

Berdasarkan pengolahan data yang dilakukan didapat jumlah segmen tertinggi yaitu 28 di Kota Bintuhan. Sedangkan yang terendah 13 di Kota Bengkulu. Dari hasil ini dapat ditarik suatu hasil bahwa Kota Bengkulu memiliki tingkat aksesibilitas tertinggi sedangkan kota yang memiliki tingkat aksesibilitas paling rendah adalah Kota Bintuhan.

Kota Bengkulu sebagai kota yang memiliki tingkat aksesibilitas yang tinggi memiliki karakteristik lokasi yang unik sehingga menjadikannya mudah untuk mengakses kota-kota yang ada di Provinsi Bengkulu. Kota Bengkulu terletak di pesisir bagian barat Provinsi Bengkulu. Keberadaannya pada dataran rendah dan memiliki kelerengan relatif datar menjadi beberapa faktor yang memengaruhi mudahnya aksesibilitas di Kota Bengkulu. Faktor lainnya yang memengaruhi yaitu status Kota Bengkulu sebagai ibukota provinsi yang akhirnya menjadikannya sebagai pusat kegiatan ekonomi provinsi. Implikasi dari hal ini yaitu terdapatnya akses jalan sebagai akses penghubung ke kota-kota lainnya untuk kelancaran dan menunjang kegiatan ekonominya.

Kota Bintuhan merupakan kota yang memiliki tingkat aksesibilitas rendah. Dilihat dari faktor fisiknya, Kota Bintuhan letaknya sama dengan Kota Bengkulu, yaitu berada di pesisir bagian barat. Kotanya pun berada pada kelerengan yang relatif rendah. Hal-hal yang menjadi faktor penghambat diantaranya faktor ketersediaan jalan. Jalan utama yang menghubungkan Kota Bintuhan dengan kota-kota lainnya di Provinsi Bengkulu hanya yang melalui jalan utama di pesisir barat. Untuk mencapai kota-kota yang berada di timur laut Kota Bengkulu seperti Curup, Kepahiang, Argamakmur, dan Tes harus melalui Kota Bengkulu terlebih dahulu. Dalam hal ini faktor fisik wilayah menjadi penghambat dalam hal ada tidaknya jalur transportasi berupa jalan yang ada. Keberadaan Bukit Barisan dalam hal ini justru menjadi faktor yang mengakibatkan keterbatasan akses jalan.

Teori Gravitasi

Model gravitasi ini ditemkuan oleh Newton yang menyatakan bahwa dua benda akan saling tarik menarik dengan gaya yang besarnya berbanding lurus dengan perkalian massa kedua benda tersebut dan berbanding terbalik dengan jarak kuadrat[1]. Dalam studi mengenai perdagangan antar wilayah, model gravitasi ini dipakai oleh Reilly pada tahun 1929 setelah sebelumnya Ravenstein menggunakan model yang sama dalam kajiannya di bidang migrasi. Dalam aplikasi di bidang geografi, masa benda dipakai dengan jumlah penduduk sedangkan jarak antara kota memakai jarak yang ditempuh melalui jaringan jalan yang ada. Adapun rumus dari model gravitasi yaitu :

Teori gravitasi ini dapat digunakan untuk melihat interaksi keruangan antar kota. Dalam kaitannya dengan interaksi dalam transportasi, dalam hal ini dikaitkan dengan keberadaan jalan yang menghubungkan antar kota. Dalam tulisan ini, kekuatan interaksi dihitung berdasarkan kota kabupaten dengan ibukota provinsi. Asumsinya, kota kabupaten di Provinsi Bengkulu relatif homogen dalam hal perkembangannya. Sedangkan, ibukota provinsi merupakan pusat dari kegiatan ekonomi. Dengan metode semacam ini, hasilnya akan terlihat seberapa kuat kekuatan interaksi Kota Bengkulu dengan kota-kota lainnya.

Penerapan Teori Gravitasi pada Kota-kota di Provinsi Bengkulu

Kekuatan gravitasi antara Kota Bengkulu dengan kota-kota kabupaten dapat dilihat pada tabel di atas. Kekuatan gravitasi tertinggi yaitu interaksi antara Kota Bengkulu dengan Kota Argamakmur dengan nilai kekuatan gravitasi 33,74. Sedangkan kekuatan gravitasi terendah antara Kota Bengkulu dengan Kota Mukomuko dengan nilai kekuatan gravitasi 0,95.

Dalam melakukan perhitungan gravitasi ini, asumsi jarak yang digunakan diukur dari jarak terpendek jalan yang menghubungkan Kota Bengkulu dengan kota-kota yang bersangkutan. Asumsi fasilitas jalan diasumsikan sama untuk mempermudah perhitungan karena faktor adanya hambatan tersebut akan menyulitkan proses perhitungan dalam mencari nilai interaksi.

Kota Argamakmur merupakan kota yang memiliki jumlah penduduk terbanyak di Provinsi Bengkulu. Hasil perhitungan interaksi gravitasi antara Kota Bengkulu dengan Kota Argamakmur menunjukkan angka tertinggi. Hal ini menggambarkan tingkat interkasi yang terjadi antara kedua kota merupakan yang tertinggi. Mobilitas antara kedua kota tersebut merupakan yang tertinggi. Tentunya, implikasi dari mobilitas yang tersebut yaitu interaksi kegiatan ekonomi antara kedua kota tersebut tinggi. Disamping itu, faktor jarak antara kedua kota yang dekat (52 km) mempermudah akses berpindah dan beraktivitas antara kedua kota.

Kota dengan kekuatan interaksi gravitasi terendah yaitu Kota Mukomuko. Hal ini mengindikasikan interaksi antara Kota Bengkulu dengan Kota Mukomuko sangat rendah. Dalam hal ini mobilitas dan kegiatan ekonomi. Faktor jarak disini memiliki pengaruh dalam menghambat atau membuat interaksi antara kedua kota menjadi rendah.

Ringkasan

Bengkulu adalah kota dengan tingkat aksesibilitas tertinggi sedangkan yang terendah adalah Kota Bintuhan. Interaksi gravitasi tertinggi terdapat di Kota Bengkulu dengan Kota Argamakmur sedangkan interaksi gravitasi terendah terdapat pada interaksi Kota Bengkulu dengan Mukomuko.

 


[1] Bintarto, R dan Surastopo H, Metode Analisa Geografi, (Jakarta : LP3ES, 1979), hal. 80.



[1] Ibid. hal 17.


[1] Ahmad Munawar, Dasar-dasar Teknik Transportasi, (Beta Offset, 2005), hal. 1.

[2] Ibid.

[3] Lihat Lampiran Peta

[4] Bintarto, R dan Surastopo H, Metode Analisa Geografi, (Jakarta : LP3ES, 1979), hal. 80.