Resensi Buku

Robinson Crusoe (Terj. PT Bentang Pustaka)

Novel ini merupakan salah satu novel pertama yang muncul di Inggris. Penulisnya yaitu Daniel Defoe. Novel ini sangat terkenal di dunia dan merupakan salah satu karya besar yang muncul dari daratan Eropa. Hingga saat ini, novel yang menceritakan tentang pelaut yang terdampar merupakan novel yang tersohor hingga seluruh kalangan di dunia.

Novel yang saat ini memiliki terjemahan dalam bahasa Indonesia ini bisa dijadikan alternatif pengisi liburan bagi semua kalangan, baik pelajar, mahasiswa, profesional, pecinta sastra, dan lainnya.

Isi dari novel ini menceritakan seorang anak manusia yang menyukai laut hingga akhirnya dalam suatu perjalanan terdampar di suatu pulau yang tak berpenghuni. Ia pun akhirnya menghabiskan lebih dari 20 tahun di pulau tersebut. Saat terdampar awalnya ia sangat menyesali nasibnya karena tidak menuruti nasihat ayahnya untuk mencari nafkah di darat. Sehari-hari Robinson Crusoe memenuhi kebutuhan hidupnya dengan tangannya sendiri dan mengolah sumber makanan dengan hasil bumi di pulau tersebut.

Pada awal kedatangannya, Crusoe adalah seorang yang jauh dari agamanya. Namun setelah melalui perjalanan panjang hidup di pulau terpencil, lambat laun ia pun menyadari akan eksistensi Tuhan di alam semesta ini. Dengan kisah-kisah dan petualangan menarik, sang penulis menyajikan secara deskriptif (walau kurang detail) dalam untaian kata-katanya.

Dari segi bahasa kadang terdapat kata-kata yang tidak efektif atau kurang lengkap. Namun, kesemuanya tidak mengurangi keseluruhan isi dari cerita. Aslinya, novel ini tidak memiliki bab-bab. Namun, dalam terjemahan (oleh PT Bentang Pustaka) di bagi-bagi ke dalam +10 bab tanpa judul bab. Penulis sering menambah atau memperjelas filosofi cerita dengan panjang lebarnya sehingga pembaca dapat paham apa yang ada dalam pikiran si tokoh ketika menemukan ‘pencerahan’ dalam cerita tersebut.

Advertisements

2 thoughts on “Robinson Crusoe (Terj. PT Bentang Pustaka)

  1. Hmmm, jadi pencerahan yg kamu (ehm, biar formal) dapat apa?

    Ketika mendengar nama Robinson Crusoe yg terbayang dibenakku malah seorang anak remaja usia 15 tahun yang bertualang keliling dunia. Aku sama sekali tidak terpikir kalau novel ini sangat sepi dan suram (sepertinya). Menurutku, kamu tidak adil kalau membahas cara penulisan karena jaman itu contohnya masih sedikit. Justru kalau kita hidup di masa itu, kita akan berpikir tulisannya secanggih tulisan Mark Twain atau J.R.R. Tolkien jaman sekarang.

    Pernah nonton film “Cast Away” tak? Ceritanya tentang seorang pria terdampar di sebuah pulau. Pria itu baru bertunangan dan akan menikah. Suatu hari, dia naik pesawat (lupa akan kemana utk tujuan apa), tetapi pesawatnya jatuh dan meledak di tengah laut. Dia satu-satunya orang yg bertahan hidup. Namun, dia terdampar di pulau kecil dalam waktu yg cukup lama, kalau tidak salah sekitar lima tahun. Kemudian akhirnya ketika dia berhasil kembali, tunangannya sudah menikah. Sedihnyaaaaa..

    Sekilas mirip kan? Sayangnya film “Cast Away” tidak memasukkan nilai-nilai spiritual, lebih kepada perjuangan hidup manusia dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Yang mengagumkan adalah bagaimana penulis naskah dapat membuat film yang cenderung one man show ini jadi sangaaaat menarik untuk ditonton.

    Kok jadi membahas film??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s