Tags

, ,

Indahnya Melayu

Salah satu aset budaya bangsa Indonesia yaitu kebudayaan melayu. Tak heran bila berbagai kekayaan bangsa Indonesia berasal dari peradaban dan budaya melayu. Mulai dari bahasa Indonesia dan seni budaya yang ada di Indonesia. Namun secara ruang, yang mendapat pengaruh budaya dan seni melayu berada di bagian barat Indonesia. Terutama di Kepulauan Riau (Kepri) dan sekitarnya.

Pengaruh dari kebudayaan melayu ini tak dapat dilepaskan dari pengaruh menyebarnya agama Islam di Indonesia. Dimana pedagang dari Gujarat banyak singgah di wilayah-wilayah pesisir yang ada di Indonesia mulai dari pesisir timur Sumatra hingga pesisir utara Jawa. Akibat dari kegiatan perdagangan inilah agama Islam kemudian menyebar di berbagai pelosok di Indonesia hingga ke bagian timurnya.

Menjelajah Melayu

Berbicara kebesaran melayu tak dapat dipisahkan oleh kebesaran Kerajaan Islam Malaka. Pada abad ke-15 kerajaan ini mengalami puncak kejayaan. Salah satu faktor yang ikut berperan yaitu ramainya jalur perdagangan di Selat Malaka yang dilewati oleh pedagang internasional dan juga peran Malaka sebagai pusat perdagangan pada masanya. Hal ini memicu perebutan oleh penjajah Portugis sehingga pada abad ke16 tepatnya pada tahun 1511 Malaka dikuasai oleh Portugis. Akibatnya Kerajaan Malaka runtuh dan terpecah. Pada akhirnya kerajaan terbagi menjadi dua (akibat dari adanya Traktat London) yaitu Kerajaan Johor dan Kerajaan Riau-Lingga di Kepri.

Kerajaan Riau-Lingga berpusat di Pulau Penyengat (kemudian berpindah ke pulau di bagian selatan yaitu Pulau Lingga). Pulau kecil ini terletak di sebelah barat dari Pulau Bintan dan dapat ditempuh dengan menaiki kapal penumpang dari Tanjung Pinang. Pada masa jayanya, pulau ini merupakan pusat dari peradaban melayu. Hal ini iterbukti dari kekayaan budaya dalam bidang sastra melayu yang tersohor hingga saat ini. Salah satu tokohnya yaitu Raja Ali Haji yang kemudian dikukuhkan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah. Salah satu karya yang tersohor dari Raja Ali Haji adalah gurindam duabelas yang berisi petuah dalam menjalani hidup dan dikemas dalam khas gurindam.

Saat ini, jejak peninggalan Kerajaan Riau-Lingga hanya bisa dinikmati dari peninggalan yang tersisa. Salah satunya yang akan saya sajikan dalam tulisan ini yang merupakan perjalanan saya pada tahun 2009 lalu.

Sisa Peninggalan Prasejarah di Melayu

Tidak hanya tempat-tempat di Jawa, ternyata di Pulau Bintan terdapat pula peninggalan manusia dari zaman prasejarah. Salah satu bentuk peninggalannya yaitu kjokkenmoddinger. Situs ini terdapat di daerah Kawal, arah timur laut dari Tanjung Pinang.

Keberadaan situs ini di Kawal menjadikan situs ini banyak diteliti oleh banyak peneliti sejarah dan arkeologi. Keberadaan situs ini menjadi indikasi bahwa pada masa lampau tak jauh dari situs ini terdapat laut. Namun, seiring berjalannya waktu terjadi perubahan garis pantai hingga keadaannya yang saat ini. Situs ini berada di tengah hutan dan jauh dari keramaian kota. Untuk mencapai situs ini dapat ditempuh dalam waktu sekitar dua jam dari Kota Tanjung Pinang.

Untuk melihat sekilas sejarah melayu di kota Tanjung Pinang terdapat museum yang dapat dijadikan referensi dalam melihat sisa-sisa peninggalan sejarah melayu. Museum ini bernama Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah yang berlokasi di dekat Kampung Cina (pecinan). Beberapa koleksi yang dapat dilihat diantaranya:

  • Aksesoris, pakaian, senjata, dan peralatan asal budaya setempat.
  • Koleksi keramik yang berasal dari Cina dan Jepang.
  • Alat-alat teknologi masa lampau seperti penjala ikan, penggiling getah, dan

lainnya.

  • Naskah-naskah, artefak, dan foto-foto mengenai sejarah setempat berikut hasil

dari peninggalan kolonialisme asing dahulu.

  • Koleksi uang kertas, koin, stempel, dan koleksi sejenisnya.

Sisa Kejayaan Kerajaan Riau-Lingga

Istana lama di Ulu Sungai Carang

Untuk dapat mencapai lokasi ini dapat memakai speed boat. Selama perjalanan menuju ke Istana Lama kita disajikan oleh lebatnya hutan bakau yang berada di kanan dan kiri sungai. Namun, di beberapa tempat juga dapat kita saksikan penambangan bauksit oleh penambanghingga menyebabkan di beberapa lokasi menjadi gundul tanah bagian atasnya.

Ulu Sungai Carang dahulu merupakan negeri yang baru dibuka pada masa Laksamana Abdul Jamil III (1613-1677). Pada masanya merupakan bandar dagang yang ramai dikunjungi saudagar-saudagar yang melalui Selat Malaka. Bahkan pada 4 Oktober 1722 pusat pemerintahan Kerajaan Johor-Riau dipindahkan ke tempat ini. Alasan dipindahnya pusat pemerintahan karena letaknya yang sangat strategis dan terlindungi oleh Pulau Penyengat sebagai pertahanan. Sebagai implikasinya, daerah sekitarnya seperti Tanjungpinang pun berkembang menjadi pusat-pusat permukiman baru dan ramai disinggahi kapal dagang. Pada tahun 1787, Sultan Mahmud III memindahkan pusat kerajaan dari ulu Sungai Carang ke Pulau Lingga di bagian selatan Kepulauan Riau. Sejak saat itu pun ulu Sungai Carang menjadi kosong dan ditinggalkan hingga meninggalkan reruntuhan istananya yang dapat kita saksikan hingga kini.

Kompleks Pemakaman Raja-raja Melayu

Tak jauh dari reruntuhan Istana Lama kita bisa mengunjungi makam raja melayu yang dapat ditempuh oleh speed boat selama 15 menit. Tak jauh dari dermaga kapal dengan menempuh jalan kaki selama 10 menit kita dapat mencapai makam Daeng Marewah. Daeng Marewah adalah seorang bugis yang menjadi Yang Dipertuan Muda I (perdana menteri) karena berjasa menaklukan Raja Kecil dari Sumatra Timur. Makam ini terletak ditempat terbuka dan selain terdiri dari makam Daeng Marewah terdapat pula makam keluarga dan keturunan beliau.

Pengganti Daeng Marewah adalah Daeng Celak yang juga sama-sama dari bugis. Makamnya berada lebih masuk ke pedalaman dibanding dengan makam Daeng Marewah. Waktu tempuh perjalanan kurang lebih 15 menit dengan berjalan kaki.

Kedua makam yang pernah saya kunjungi tersebut dijaga oleh kuncen yang mengurus sekaligus menjadi narasumber bagi para peziarah atau wisatawan yang berkunjung.

Senggarang, pecinan

Senggarang memiliki objek wisata unik dan klasik. Salah satunya yaitu klenteng. Klenteng yang berada di Senggarang telah berumur 300 tahun dan menjadi tempat peribadatan etnis Tionghoa selama klenteng ini berdiri. Gaya bangunan yang berada di Senggarang hampir semua bergaya Tionghoa dengan warna merah sebagai warna dominasinya. Objek ini pun memiliki kolam ikan yang berisi ikan koi serta patung Dewi Kwam-In.

Pulau Penyengat

Pulau Penyengat merupakan salah satu pulau yang wajib dikunjungi ketika berkunjung ke Tanjung Pinang. Pulau ini sarat akan peninggalan sejarah melayu dan merupakan asal mula sastra melayu yang dahulu dikembangkan oleh Raja Ali Haji. Beberapa lokasi yang patut dikunjungi diantaranya Balai Adat Melayu. Balai Adat ini berbentuk segi empat dengan beberapa pondasi ‘panggung’ di bagian bawahnya. Di bagian depannya terdapat tangga untuk menuju ruang utama. Sebelum menuju bagian utama terdapat ruang yang dibatasi oleh pagar pada bagian luarnya. Di ruang utama, paling pojok terdapat pelaminan khas melayu yang banyak menggunakan warna kuning sebagai warna kebesaran Melayu. Bentuk atap dari Balai Adat Melayu ini berbentuk runcing segitiga yang memanjang ke bagian belakang yang dipenuhi oleh ukir-ukiran khas Melayu berwarna kuning.

Salah satu ikon budaya arsitektur melayu adalah desain dari masjid yang digunakan sebagai tempat ibadah umat Islam. Di Pulau Penyengat terdapat masjid yang dibangun pada tahun 1832. Masjid ini bernama Masjid Raya Sultan Riau. Adapun bahan utama dalam pembangunan masjid tua ini berasal dari campuran semen dan putih telur.

Enjoy and travel Indonesia!