Kereta, sebagai transportasi masal nan murah yang ada di negeri ini merupakan sarana transportasi favorit bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia. Selain karena harganya yang murah meriah, faktor waktu tempuh yang relatif cepat menjadi alasan sebagian orang untuk menggunakan transportasi ini.

Setiap hari, tak kurang dari 50.000 orang menggunakan jasa transportasi KRL ekonomi Jakarta – Bogor. Bisa dibayangkan betapa banyaknya masyarakat yang bergantung terhadap transportasi masal ini. Kebanyakan pengguna KRL Jakarta – Bogor adalah para komuter yang tinggal di wilayah selatan Jakarta seperti Depok, Citayam, Bojong Gede, hingga Bogor. Sehingga, ketika jam-jam sibuk seperti saat pukul enam hingga pukul delapan, suasana dalam KRL akan dipenuhi oleh para manusia yang terdiri dari berbagai latar belakang dan pendidikan di dalamnya. Kondisi seperti ini selalu terjadi tiap hari kerja. Dapat dibayangkan betapa “besarnya” perjuangan yang dilakukan oleh sebagian masyarakat tersebut. Kondisi seperti ini akan sontak menjadi berubah ketika terjadi permasalahan teknis pada KRL tersebut. Misalnya keterlambatan jadwal, kereta mogok, gangguan sinyal, dan kecelakaan.

Keterlambatan jadwal perjalanan kereta sudah lumrah terjadi. Sebagai pengguna rutin KRL penulis sering merasa dirugikan akibat keadaan ini. Keterlambatan yang terjadi lebih sering ketika waktu siang hingga sore. Berbeda dengan ketika pagi yang masih sesuai dengan jadwal. Keterlambatan kedatangan kereta akan banyak merugikan pengguna karena efeknya akan menunda hajat yang akan dilakukan oleh pengguna. Kadangkala, keterlambatan jadwal terjadi karena adanya salah satu KRL yang mogok atau mengalami gangguan sinyal. Ketika KRL mengalami kemogokan biasanya akan dioper ke KRL yang lainnya. Namun itu masalahnya, kepadatan penumpang di KRL yang dioper akan mengalami kepadatan penumpang yang luar biasa penuhnya. Jika mengalami gangguan sinyal, jadwal kereta pun akan mundur. Konyolnya, pernah suatu kali terjadi gangguan sinyal yang disebabkan oleh dicurinya kabel sinyal di sekitar Stasiun Manggarai! Luar biasa…

Buruknya sistem transportasi favorit rakyat ini ditambah oleh lemahnya pengamanan petugas dan buruknya perilaku pengguna kereta. Masalah ini sering terjadi pada KRL “kelas rakyat” atau KRL Kelas Ekonomi. Pada akhir Juni 2008, terjadi kecelakaan penumpang kereta. Korban yang diidentifikasi sebagai pelajar SMP ini mengalami kejadian naas ketika sedang menikmati perjalanan KRL Ekonomi di “lantai 2”. Di stasiun Bojong Gede, ia tersengat arus listrik 2500 Volt dan langsung tewas seketika. Karena adanya kecelakaan tersebut, terjadi penumpukan penumpang di stasiun-stasiun. Di Stasiun Bogor para calon penumpang terlantar selama kurang lebih 2,5 jam dan terjadi penumpukan penumpang yang membludak.   

Selain masalah-masalah teknis di atas ada pula permasalahan sosial pada KRL. Namun, lagi-lagi KRL Ekonomi. Masalah copet-mencopet seakan menjadi kejadian yang dianggap biasa oleh sebagian besar pengguna. Banyak para pengguna rutin KRL Ekonomi yang sudah menjadi korban pencopetan di atas KRL. Hal ini menandakan keamanan dan kenyamanan penumpangdi atas KRL, terutama kelas ekonomi, buruk. Ketika kita tak bisa berharap banyak pada petugas, diri kita sendirilah yang mesti waspada. Masalah sosial lainnya ialah banyaknya tuna wisma yang berkeliaran dalam KRL. Kondisi ini tentunya mengganggu para penumpang yang ingin mendapatkan kenyamanan dalam perjalanan. Hal ini tak bisa dipungkiri adalah wajah bangsa ini. bangsa yang belum “merdeka” sepenuhnya dari kemiskinan dan hidup tak layak.

Berikut beberapa solusi yang bisa dilakukan oleh para pengambil keputuasan di negeri ini terutama di bidang transportasi kereta. Pertama, regenerasi kereta yangtidak layak jalan. Hal ini selain untuk kenyamanan juga untuk mengurangi kecelakaan yang diakibatkan oleh buruknya kondisi kereta. Hal harus ditunjang juga dengan perawatan yang teratur. Kedua, menambah armada kereta pada waktu jam-jam sibuk. Hal ini untuk mengatasi penumpukan penumpang dan kenyamanan dalam perjalanan bagi penumpang. Ketiga, mendisplinkan waktu kereta yang datang dan pergi dengan ketat. Kempat, menambah personel keamanan dalam gerbong untuk mengurangi tingkat kriminalitas. Selain itu juga memperbaiki mental para petugas yang menagih karcis. Sering dijumpai petugas yang disogok oleh penumpang gelap. Terakhir, menumbuhkan rasa disiplin terhadap penumpang yang melanggar seperti yang naik di atap harus ditindak tegas. Bisa dilakukan dengan menyiapkan petugas di masing-masing stasiun. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir tingkat kecelakaan.

0606071185

Anggi Kusumawardani