1. Geografi Kesehatan

 

Geografi kesehatan merupakan bagian dari ilmu geografi yang khusus mempelajari topik-topik yang berhubungan dengan masalah kesehatan. Geografi kesehatan menggunakan konsep dan teknik dari disiplin ilmu geografi dalam menjelaskan suatu fenomena di bidang kesehatan. Salah satu konsep yang dominan dalam geografi kesehatan yaitu mempelajari hubungan antara manusia dan lingkungannya secara holistik dan melihat interaksi antara manusia dengan beragam budayanya masing-masing dalam biosfer yang berbeda.

Penggunaan metode geografi dalam geografi kesehatan lebih kepada analisis spasial. Dimana kejadian penyakit terjadi, apa penyebabnya, bagaimana penularannya, cara penanggulangannya, merupakan beberapa pertanyaan yang harus dijawab secara komprehensif melalui analisis spasial. Peta sebagai alat peraga, dapat memperlihatkan sebaran kejadian penyakit yang ada sehingga bisa menunjukkan distributional pattern dari fenomena kejadian penyakit dan hubungannya dengan fenomena fisik permukaan bumi ataupun aktivitas manusia sehingga dalam mencari pemecahannya dapat dijawab dengan holistik.

Penelitian awal yang menghubungkan antara geografi dengan epidemiologi dibuat pada pertengahan abad ke-19 oleh Dr. John Snow yang membuat peta sebaran penderita kolera yang disebabkan oleh tercemarnya sumur umum di London. Hasil dari peta memperlihatkan pengelompokkan penderita yang tinggalnya paling dekat dengan sumur umum tersebut. Hasil dari asosiasi spasial tersebut digunakan untuk mengurangi dampak kolera yang sudah mewabah di daerah tersebut dengan menutup sumur umum.

 

2. Geografi Kesehatan dan Kolera di Peru

Penyakit Kolera

Penyakit kolera merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri dengan masa inkubasi dalam tubuh manusia satu sampai dua hari. Bakteri kolera (Vibrio cholera) mempunyai lebih dari enam puluh serotipe, tetapi hanya serogrup 01 yang menyebabkan penyakit kolera. Bakteri kolera yang telah masuk tubuh (patogen) menggandakan tubuhnya di usus penderita. Bakteri ini amat peka pada temperatur yang tinggi, keasaman, dan kondisi kering. Cara penularannya yaitu ketika penderita mengonsumsi makanan atau air yang telah terkontaminasi oleh bakteri. Gejala yang dirasakan ketika sudah terkena yaitu mengalami diare berat dan muntah-muntah. Menurut beberapa penelitian, penyakit kolera banyak menyerang orang yang memiliki golongan darah O, namun sampai saat ini belum ditemukan apa hubungannya.

Bakteri kolera yang menyerang tubuh akan mengeluarkan racun yang menyebabkan dehidrasi. Hal ini akan sangat berbahaya dan efeknya akan sangat fatal. Kematian terjadi jika dehidrasi tubuh melebihi 50 % dari total cairan tubuh. Penanganannya, dengan ORT (Oral Rehydration Treatment) dan RIT (Rapid Intravenous Rehydration Therapy) untuk menghindari dari akibat fatal yang ditimbulkan, yaitu kematian. Selama abad 19, pandemi kolera terdapat di India. Selama pandemi ini, kolera mewabah sampai ke Benua Amerika.

Cholera Vibrio 01 memiliki dua tipe, yaitu tipe klasikal dan biotipe El Tor. Setiap biotipe masing-masing terdiri dari dua serotipe, Ogawa dan Inaba. Biotipe El Tor pertama kali ditemukan pada tahun 1960 pada jamaah haji di Mekah di sekitar pantai Laut Merah. Biotipe El Tor memiliki efek yang lebih rendah dibanding tipe klasikal yang lebih mematikan (satu diantara delapan kasus menderita El Tor dan satu dari dua kasus menderita biotipe klasikal). Pandemi yang terjadi di abad ke-20 ini merupakan pandemi ketujuh dan yang pertama karena diakibatkan oleh biotipe El Tor.

Kolera di Peru

Kejadian kolera di Peru teridentifikasi pertama kali pada Januari 1991 di Chancay, distrik di area pantai utara kota Lima. Setelah diidentifikasi ternyata disebabkan oleh Cholera Vibrio. Kasus yang disebabkan biotipe El Tor muncul kemudian di area sekitarnya. Epidemi dengan cepatnya menyebar dan dalam hitungan hari sudah mewabah ke seluruh area pantai di Peru.

Menurut pejabat terkait, Peru memiliki sistem suplai air yang buruk dan mengalami kelebihan populasi pada kota-kota yang mengelilingi kota pantai. Sehingga secara tidak langsung hal ini memengaruhi proses penyebaran penyakit kolera yang terjadi Peru. Banyak infrastruktur yang mengalami kerusakan, bahkan suplai air banyak terkontaminasi karena banyaknya pipa yang bocor.

Area pesisir di Peru merupakan daerah yang kering tetapi sungai-sungai yang mengalir dari pegunungan Andes digunakan untuk irigasi. Kepadatan penduduk yang tinggi dan suplai air yang sistemnya buruk membuat penyakit yang ditularkan melalui media air semakin merajalela, termasuk kolera. Keadaan akan bertambah buruk ketika sanitasi di permukiman tidak mendukung yang membuat penyakit kolera semakin menyebar. Di Peru, wilayah yang terkena kolera merupakan wilayah permukiman miskin. Hal ini semakin memperkuat korelasi antara penyakit kolera karena kemiskinan (sanitasi buruk dan pendidikan yang rendah).

Menyebarnya penyakit kolera di Peru dapat dijelaskan melalui keterkaitan iklim. El Nino merupakan arus panas yang datang dari utara ke selatan sepanjang pantai Amerika Selatan di Samudera Pasifik. Fenomena ini terjadi pada akhir Desember dan awal Januari 1991. Arus ini menghasilkan temperatur yang lebih tinggi dari biasanya di Samudera Pasifik. Ketika vibrio kolera berada di air yang dingin, ukurannya akan menyusut hingga 300 kali lebih kecil dari ukuran biasanya. Zooplankton, yang mendiami air yang dingin membawa vibrio kolera dalam jumlah besar. Akibatnya, air laut yang digunakan untuk membuat kolam di sekitar pesisir akan menginfeksi orang yang mengonsumsi produk-produknya seperti ikan dan lainnya. (Colwell, 2008).

Dari Peru, penyakit kolera menyebar dengan cepat ke negara-negara Amerika Latin lainnya. Difusi penyakit ini pun terus berlanjut hingga ke bagian selatan dan tengah Amerika Latin. Secara umum, tingkat kematian yang diakibatkan oleh kolera di Amerika Latin 1% dari penderita.

Daftar Pustaka

–    Arbona, Sonia & S. Crum. 1996. Medical Geography and Cholera in Peru. Sumber: http://www.colorado.edu/geography/gcraft/warmup/cholera/cholera_f.html

–    http://www.medterms.com/script/main/art.asp?articlekey=18879

–     http://www.cdc.gov/safewater/pub/pub/tauxe_r.htm