Uncategorized

KRL… KRL… Riwayatmu Kini…

Kereta, sebagai transportasi masal nan murah yang ada di negeri ini merupakan sarana transportasi favorit bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia. Selain karena harganya yang murah meriah, faktor waktu tempuh yang relatif cepat menjadi alasan sebagian orang untuk menggunakan transportasi ini.

Setiap hari, tak kurang dari 50.000 orang menggunakan jasa transportasi KRL ekonomi Jakarta – Bogor. Bisa dibayangkan betapa banyaknya masyarakat yang bergantung terhadap transportasi masal ini. Kebanyakan pengguna KRL Jakarta – Bogor adalah para komuter yang tinggal di wilayah selatan Jakarta seperti Depok, Citayam, Bojong Gede, hingga Bogor. Sehingga, ketika jam-jam sibuk seperti saat pukul enam hingga pukul delapan, suasana dalam KRL akan dipenuhi oleh para manusia yang terdiri dari berbagai latar belakang dan pendidikan di dalamnya. Kondisi seperti ini selalu terjadi tiap hari kerja. Dapat dibayangkan betapa “besarnya” perjuangan yang dilakukan oleh sebagian masyarakat tersebut. Kondisi seperti ini akan sontak menjadi berubah ketika terjadi permasalahan teknis pada KRL tersebut. Misalnya keterlambatan jadwal, kereta mogok, gangguan sinyal, dan kecelakaan.

Keterlambatan jadwal perjalanan kereta sudah lumrah terjadi. Sebagai pengguna rutin KRL penulis sering merasa dirugikan akibat keadaan ini. Keterlambatan yang terjadi lebih sering ketika waktu siang hingga sore. Berbeda dengan ketika pagi yang masih sesuai dengan jadwal. Keterlambatan kedatangan kereta akan banyak merugikan pengguna karena efeknya akan menunda hajat yang akan dilakukan oleh pengguna. Kadangkala, keterlambatan jadwal terjadi karena adanya salah satu KRL yang mogok atau mengalami gangguan sinyal. Ketika KRL mengalami kemogokan biasanya akan dioper ke KRL yang lainnya. Namun itu masalahnya, kepadatan penumpang di KRL yang dioper akan mengalami kepadatan penumpang yang luar biasa penuhnya. Jika mengalami gangguan sinyal, jadwal kereta pun akan mundur. Konyolnya, pernah suatu kali terjadi gangguan sinyal yang disebabkan oleh dicurinya kabel sinyal di sekitar Stasiun Manggarai! Luar biasa…

Buruknya sistem transportasi favorit rakyat ini ditambah oleh lemahnya pengamanan petugas dan buruknya perilaku pengguna kereta. Masalah ini sering terjadi pada KRL “kelas rakyat” atau KRL Kelas Ekonomi. Pada akhir Juni 2008, terjadi kecelakaan penumpang kereta. Korban yang diidentifikasi sebagai pelajar SMP ini mengalami kejadian naas ketika sedang menikmati perjalanan KRL Ekonomi di “lantai 2”. Di stasiun Bojong Gede, ia tersengat arus listrik 2500 Volt dan langsung tewas seketika. Karena adanya kecelakaan tersebut, terjadi penumpukan penumpang di stasiun-stasiun. Di Stasiun Bogor para calon penumpang terlantar selama kurang lebih 2,5 jam dan terjadi penumpukan penumpang yang membludak.   

Selain masalah-masalah teknis di atas ada pula permasalahan sosial pada KRL. Namun, lagi-lagi KRL Ekonomi. Masalah copet-mencopet seakan menjadi kejadian yang dianggap biasa oleh sebagian besar pengguna. Banyak para pengguna rutin KRL Ekonomi yang sudah menjadi korban pencopetan di atas KRL. Hal ini menandakan keamanan dan kenyamanan penumpangdi atas KRL, terutama kelas ekonomi, buruk. Ketika kita tak bisa berharap banyak pada petugas, diri kita sendirilah yang mesti waspada. Masalah sosial lainnya ialah banyaknya tuna wisma yang berkeliaran dalam KRL. Kondisi ini tentunya mengganggu para penumpang yang ingin mendapatkan kenyamanan dalam perjalanan. Hal ini tak bisa dipungkiri adalah wajah bangsa ini. bangsa yang belum “merdeka” sepenuhnya dari kemiskinan dan hidup tak layak.

Berikut beberapa solusi yang bisa dilakukan oleh para pengambil keputuasan di negeri ini terutama di bidang transportasi kereta. Pertama, regenerasi kereta yangtidak layak jalan. Hal ini selain untuk kenyamanan juga untuk mengurangi kecelakaan yang diakibatkan oleh buruknya kondisi kereta. Hal harus ditunjang juga dengan perawatan yang teratur. Kedua, menambah armada kereta pada waktu jam-jam sibuk. Hal ini untuk mengatasi penumpukan penumpang dan kenyamanan dalam perjalanan bagi penumpang. Ketiga, mendisplinkan waktu kereta yang datang dan pergi dengan ketat. Kempat, menambah personel keamanan dalam gerbong untuk mengurangi tingkat kriminalitas. Selain itu juga memperbaiki mental para petugas yang menagih karcis. Sering dijumpai petugas yang disogok oleh penumpang gelap. Terakhir, menumbuhkan rasa disiplin terhadap penumpang yang melanggar seperti yang naik di atap harus ditindak tegas. Bisa dilakukan dengan menyiapkan petugas di masing-masing stasiun. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir tingkat kecelakaan.

0606071185

Anggi Kusumawardani

Advertisements
Geografi

UNDANG-UNDANG NO. 5 TAHUN 1960

UU No. 5 Tahun 1960

Undang-undang Pokok Agraria

BAB I

Dasar-dasar dan Ketentuan Pokok

Pasal 1

(1) Seluruh wilayah Indonesia adalah kesatuan tanah-air dari seluruh

rakyat Indonesia yang bersatu sebagai bangsa Indonesia.

(2) Seluruh bumi, air dan ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang

terkandung didalamnya dalam wilayah Republik Indonesia, sebagai

karunia Tuhan Yang Maha Esa adalah bumi, air dan ruang angkasa

bangsa Indonesia dan merupakan kekayaan nasional

(3) Hubungan antara bangsa Indonesia dan bumi, air serta ruang angkasa

termaksud dalam ayat (2) pasal ini adalah hubungan yang bersifat

abadi.

(4) Dalam pengertian bumi, selain permukaan bumi, termasuk pula tubuh

bumi dibawahnya serta yang berada dibawah air.

(5) Dalam pengertian air termasuk baik perairan pedalaman maupun laut

wilayah Indonesia.

(6) Yang dimaksud dengan ruang angkasa ialah ruang diatas bumi dan air

tersebut pada ayat (4) dan (5) pasal ini.

Penjelasan     

            Dalam UUPA tahun 1960 ini, merupakan dasar hukum dari agraria. Dalam pasal 1 yang dijabarkan dalam enam ayat, menyangkut tentang dasar-dasar dan ketentuan pokok yang menjadi pijakan dasar hukum agraria di Indonesia. Garis besar dari pasal 1 ini tercantum beberapa pengertian yang membatasi dalam hal wilayah Indonesia yang terdiri dari bumi, air (laut), dan juga ruang angkasa. Kesatuan yang terdiri dari darat, laut, dan udara merupakan kesatuan utuh Bangsa Indonesia yang wajib dipertahankan dan kekayaan didalamnya dipergunakan untuk kemakmuran rakyat.

  • Implementasi Pasal 1

            Indonesia merupakan negara kepulauan di belahan khatulistiwa yang memiliki jumlah pulau kurang lebih 17.000 yang tersebar. Batas-batas perairan di Indonesia terdiri dari batas teritorial dan Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE). Batas teritorial diukur dari garis terluar pulau yang berjarak 12 mil keluar ke arah lautan bebas. Mengenai hal ini, negara Indonesia memiliki hak penuh atas kedaulatan sampai batas laut teritorial ini. Tetapi, disamping itu, negara harus juga menyediakan alur pelayaran untuk lalu-lintas damai, baik di atas permukaan air maupun di bawah permukaan air.  Adapun garis dasar merupakan garis khayal yang menghubungkan titik-titik dari ujung pulau-pulau. Jarak titik dari satu titik ke titik yang lain dihubungkan dengan syarat tidak melebihi 200 mil.

            Batas ZEE merupakan garis yang ditarik ke luar dari garis dasar yang berjarak 200 mil. Kewenangan sebuah negara di ZEE ini yaitu dalam hal memanfaatkan sumberdaya di laut atau di bawah dasar laut. Dalam hal ini, negara yang bersangkutan memiliki kesempatan pertama dalam pemanfaatan tersebut. Kewajiban dari negara tersebut yaitu menghormati lalu-lintas damai pelayaran di zona tersebut.

            Landas kontinen adalah dasar lautan, yang baik dari segi geologi, maupun morfologi, merupakan kelanjutan dari kontinen atau benuanya. Lautan yang berada di d atasnya adalah lautan dangkal, dengan kedalaman tidak lebih dari 150 meter (Sandy, 1996). Negara Indonesia yang berbentuk kepulauan terletak pada dua landas kontinen yaitu kontinen Asia dan Australia. Batas landas kontinen yang ditarik dari garis dasar, jaraknya tidak tentu namun jarak terjauhnya 200 mil. Apabila terdapat dua negara yang atau lebih yang menguasai lautan di atas landas kontinen, batas antar negara-negara tersebut ditarik sama jauhnya dari garis dasar masing-masing. Dalam batas di Indonesia, batas landas kontinen berada di Selat Malaka sebelah Selatan. Di sebelah Selatan Indonesia, terdapat di Laut Timor.

            Adapun batas di daratan di Indonesia terdapat di dua negara tetangga yaitu Irian Jaya yang berbatasan langsung dengan  Papua Nugini dan Kalimantan yang berbatasan dengan Malaysia Timur. Untuk menjaga keutuhan negara kita, di lokasi perbatasan dengan negara lainnya perlu diperkuat oleh pasukan pengamanan supaya tindakan ilegal lewat pintu perbatasan antar negara dapat diminimalisasi.

  • Aspek Historis

            Sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1945, Indonesia dijajah oleh Belanda selama 3,5 abad dan dijajah pula selama tiga tahun oleh Jepang. Saat merdeka, banyak hukum-hukum yang diadopsi oleh Indonesia yang diambil dari peninggalan Belanda seperti hukum laut, hukum pertanahan, hukum pertanian, dan lainnya.

            Pada tahun 1608, Hugo de Groot menuliskan dalam bukunya bahwa Belanda, seperti halnya bangsa Eropa yang lainnya, memiliki hak yang sama untuk berlayar ke Timur. Dengan demikian, prinsip hak milik negara atas lautan juga telah menyebabkan penguasaan Nusantara beserta lautnya oleh berbagai kekuatan luar seperti Portugal, Spanyol, Inggris dan lain-lain. Selama kurang lebih tiga abad selanjutnya, laut Nusantara lebih banyak berfungsi sebagai alat pemisah dan pemecah belah kesatuan dan persatuan Indonesia pada masa tersebut. (http://ditgeografisejarah.blogdetik.com).
            Baru pada abad ke-20, melalui Territoriale Zee en Maritieme Kringen Ordonnantie1939 (Staatsblad 1939 No. 422) atau yang biasa disingkat dengan Ordonantie 1939, wilayah laut dalam suatu pulau di Nusantara memiliki ketetapan hukum yang diakui secara internasional. Ordonantie 1939 menetapkan bahwa jarak laut teritorial bagi tiap-tiap pulau sejauh tiga mil.

            Deklarasi Djuanda pada tahun 1957 merupakan tonggak awal bagi Indonesia dalam hal perubahan rezim kelautan nasional di Indonesia. Pembacaan deklarasi Djuanda ini sendiri dibacakan langsung oleh Perdana Menteri Djuanda. Dalam deklarasi tersebut pemerintah Indonesia mengklaim bahwa segala perairan di sekitar, di antara, dan yang menghubungkan pulau-pulau atau bagian pulau-pulau yang termasuk daratan negara Republik Indonesia, dengan tidak memandang luas dan lebarnya adalah bagian-bagian yang wajar wilayah daratan negara Republik Indonesia, dan dengan demikian merupakan bagian daripada perairan nasional yang berada di bawah kedaulatan mutlak negara Republik Indonesia (http://www.dkp.go.id).

            Deklarasi tersebut juga menyebutkan bahwa lalu lintas yang damai melalui perairan-perairan pedalaman ini bagi kapal asing terjamin, selama tidak bertentangan dengan kedaulatan dan keselamatan negara Indonesia. Penentuan batas laut teritorial yang lebarnya 12 mil yang diukur dari garis-garis yang menghubungkan titik-titik yang terluar pada pulau-pulau negara Republik Indonesia akan ditentukan dengan undang-undang.

            Berpijak dari deklarasi tersebut, merupakan tonggak awal pemersatu laut sebagai satu kesatuan nasional. Hal ini berarti laut bukanlah alat pemisah dari satu pulau dengan pulau lainnya melainkan sebagai alat pemersatu bagi kesatuan bangsa Indonesia. Dengan adanya batas teritorial, ZEE menjadi batas legal negara Indonesia dalam haknya untuk menguasai wilayah perairan tersebut.

_^^_

DAFTAR PUSTAKA

1

Gambar 1. Batas-batas perairan di Indonesai

(Sumber : http://www.e-dukasi.net/mol/datafitur/modul_online/MO_99/images/geox084.jpg )

 

Geografi

PRODUKSI PERTANIAN PADI DI JAWA BARAT (2007)

1. Pendahuluan

            Sumber daya alam, telah dikenal oleh manusia sejak manusia ada di bumi ini. Mulai dari ketika ia makan hingga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang tidak bisa dilepaskan dari sumber daya alam. Sumber daya alam adalah semua aspek alam yang dapat dimanfaatkan manusia untuk memenuhi kebutuhannya (Zen, 1984). Interaksi antara manusia dengan alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya merupakan salah satu bentuk pemanfaatan yang dilakukan manusia dalam mengolah sumber daya alam. Ketersediaan dari sumber daya alam adalah fungsi dari dua hal, yaitu karakteristik fisik sumber daya alam dan kondisi teknologi dan ekonomi (Getis et al, 2000).

Secara umum sumber daya dapat dibagi menjadi dua golongan. Pertama  yaitu sumber daya yang dapat diperbarui seperti kayu, tanaman pangan, hewan ternak, dan sebagainya. Kedua, sumber daya yang tidak dapat diperbarui seperti minyak bumi, batu bara, gas alam, dan barang tambang lainnya.

Indonesia merupakan negara yang terletak di khatulistiwa yang memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah disamping letaknya yang strategis secara geografis. Sumber daya alam tersebut mulai dari kekayaan laut, hutan, hingga barang tambang yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Sandy (1996) mengemukakan jenis-jenis sumber daya di Indonesia yang meliputi ruang angkasa, hutan, lautan, tambang, tanah, dan air.

Sumber daya pangan merupakan salah satu dari kebutuhan pokok manusia yang dapat diperbarui. Di Indonesia, nasi merupakan makanan pokok (staple food) sehingga usaha produksi sumber daya pangan di Indonesia  utamanya adalah pertanian padi. Pertanian padi banyak terdapat di Pulau Jawa karena memiliki kesuburan tanah yang tinggi. Hal ini dikarenakan Pulau Jawa merupakan wilayah geosinklinal muda dan jalur orogenesa dengan banyak wilayah vulkanik yang kuat (Pannekoek, 1939). Karena mineral dari debu vulkanik itulah Pulau Jawa memiliki tanah yang subur. Dengan kesuburan tanah yang tinggi di Pulau Jawa tersebut, banyak penduduk yang mengumpul untuk bermukim di tanah-tanah yang subur sehingga terjadi pemusatan penduduk (Sandy, 1996). Lambat laun, penduduk akan bertambah populasinya yang berarti juga peningkatan jumlah konsumsi beras yang naik seiring dengan meningkatnya populasi manusia.

Provinsi Jawa Barat, sejak masa pendudukan Belanda sudah mengusahakan pertanian padi sehingga sampai saat ini pun dikatakan sebagai lumbung beras Indonesia. Bahkan, pada dekade 80-an Indonesia berhasil mencapai swasembada pangan sehingga FAO memberikan penghargaan kepada pemerintah Indonesia saat itu.

 

Masalah

            Dalam makalah ini akan membahas sumber daya pangan di Provinsi Jawa Barat. Masalahnya yaitu:

– Berapa produksi panen padi di masing-masing kabupaten di Provinsi Jawa Barat? 

– Di kabupaten mana saja yang produksi padi terendah dan tertinggi serta mengapa hal itu terjadi jika dikaitkan dengan fakta wilayahnya?

– Bagaimana kecenderungan polanya?

Keseluruhan masalah akan dikaitkan dengan kondisi dari geomorfologi Jawa Barat.

Tujuan

            Adapun tujuan dari makalah ini yaitu untuk melihat gambaran produksi panen padi di Jawa Barat yang ditampilkan secara spasial yang dikaitkan dengan kondisi geomorfologi wilayah kajian.

2. Pembahasan 

Fakta Wilayah

            Provinsi Jawa Barat terdapat di zona barat Pulau Jawa. Secara astronomis terletak di 6o – 8o LS dan 106o – 109o BT yang terdiri dari 25 daerah tingkat II. Sembilan daerah setingkat kota dan 16 daerah setingkat kabupaten. Dalam makalah ini, yang menjadi lingkup wilayah kajian ialah kriteria daerah tingkat II yang setingkat kabupaten. Hal ini dimaksudkan untuk melihat seberapa besar produksi panen padi di daerah tersebut karena mayoritas penggunan tanah di wilayah kabupaten yaitu non urban. daerah kota tidak diikutkan dalam geomer makalah ini karena secara fungsi, sektor utama yang berkembang ialah perdagangan dan jasa.

            Secara fisiografis, Pulau Jawa dapat dibagi ke dalam tiga zona. Yaitu zona utara, tengah, dan selatan. Zona utara merupakan endapan aluvial yang subur dan terdapat pula kipas aluvial yang kandungan haranya tinggi. Di zona tengah merupakan depresi yang diisi dengan endapan vulkanik muda dan terdapat blok-blok gunung api. Di zona selatan merupakan hasil dari endapan vulkanis tebal (breksi tua) yang terlipat pada meosen tengah (Pannekoek, 1939).

 

Produksi Padi di Jawa Barat

            Total luas lahan pertanian di Provinsi Jawa Barat yang panen, menurut BPS (2008), pada tahun 2007 totalnya sebesar 1.696.769 ha. Sedangkan total hasil produksi panen Provinsi Jawa Barat pada tahun 2007 yaitu 9.203.497 ton. Sehingga jika dihitung hasil panen per hektarnya, didapat rata-rata hasil panen per hektar sebesar 5,42 ton/ha atau 54,2 kwintal/ha.

            Jumlah total produksi padi tertinggi di Provinsi Jawa Barat di kabupaten pada tahun 2007 terdapat di Kabupaten Indramayu dengan total produksi sebesar 1.096.136 ton dengan luas panen 192.147 ha. Jumlah produksi Kabupaten Indramayu ini tidak berbeda jauh dengan Kabupaten Karawang yang memiliki jumlah produksi 1.026.063 ton. Sebaliknya, jumlah total produksi terendah terdapat di Kabupaten Purwakarta dengan jumlah produksi 198.984 ton. Kabupaten Cianjur, yang dikenal dengan beras hasil produksinya yang memiliki kualitas baik hanya menghasilkan 659.499 ton.

 

Analisis

            Dari hasil total produksi padi yang ada, dapat disajikan secara spasial dalam peta[1]. Berdasarkan klasifikasi yang dibuat, pengelompokan dari total jumlah hasil produksi padi di Provinsi Jawa Barat tahun 2007 dapat dibagi menjadi empat klasifikasi. Range berkisar dari 0 – 300.000, 300.000 – 600.000, 600.000 – 900.000, dan > 900.000 ton.

            Dari hasil peta terlihat suatu kecenderungan dari jumlah total padi yang dihasilkan. Jumlah produksi padi terendah (range 0 – 300.000) hanya terdapat di Kabupaten Purwakarta. Range kedua (300.000 – 600.000 ton) terdapat di Kabupaten Bogor, Bekasi, Bandung, Sumedang, Majalengka, Ciamis, Kuningan, dan Cirebon. Range ketiga (600.000 – 900.000 ton) terdapat di Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Garut, dan Tasik. Range keempat (> 900.000 ton) terdapat di Kabupaten Karawang, Subang, dan Indramayu.

            Berdasarkan peta, dapat dilihat suatu kecenderungan jumlah produksi padi yang dihasilkan di masing-masing kabupaten di Provinsi Jawa Barat. Hal ini bisa di bagi menjadi tiga bagian sama seperti tiga zona fisiografis Pulau Jawa yang dibuat oleh Pannekoek. Zona ke-1 yaitu di kabupaten yang terdapat di bagian utara Provinsi Jawa Barat dimana memiliki jumlah produksi padi yang tinggi (range ke-4). Bagian utara Jawa Barat ini merupakan endapan aluvial yang memang memiliki kesuburan tanah yang tinggi karena sebagian merupakan kipas aluvial dan juga mendapat pengaruh dari pengendapan hasil kikisan di bagian selatannya (bagian tengah) yang merupakan hasil dari vulkanik muda. Di bagian utara juga terdapat muara sungai-sungai besar seperti Ci Tarum di Kabupaten Karawang, Ci Punegara di Kabupaten Subang, dan Ci Manuk di Kabupaten Indramayu.

            Zona ke-2 yaitu di bagian tengah Jawa Barat yang memiliki jumlah produksi padi range 1 dan range 2.  Di bagian ini merupakan kabupaten dengan jumlah produksi padi terendah. Secara morfologi, bagian tengah Jawa Barat ini memang terdiri dari blok-blok gunung api dan merupakan zona depresi. Sehingga, daerah datar untuk kesesuaian tanaman padi luasnya tidak sebanyak yang ada di bagian utara Jawa Barat[2]. Selain itu, bagian tengah Jawa Barat ini terdiri dari rangkaian pegunungan yang memiliki kelerengan tidak datar sehingga dengan kondisi lereng tersebut tidak sesuai untuk tanaman padi.

            Zona ke-3 yang berada di bagian selatan merupakan daerah dengan produksi padi antara 600.000 – 900.000 ton pada tahun 2007. Di bagian selatan ini produksi padi tidak setinggi yang ada di bagian utaranya karena sebagian merupakan daerah pengangkatan dan terdiri dari plato (zona plato selatan). Sehingga dari kondisi geomorfologi yang demikian produksi padi di bagian selatan Jawa Barat tidak maksimal.

3. Penutup

Kesimpulan

Sumber daya padi merupakan sumber daya yang sangat vital karena merupakan sumber makanan pokok di Jawa Barat khususnya dan di Indonesia pada umumnya. Produksi padi tertinggi terdapat dibagian utara Jawa Barat sedangkan yang terendah terdapat di bagian tengah Jawa Barat. Keberadaan pertanian padi di Provinsi Jawa Barat dipengaruhi oleh kondisi geomorfologi yang bersangkutan karena merupakan unsur yang membentuk muka bumi di wilayah tersebut.

Saran

            Diperlukan suatu intensifikasi pertanian di Jawa Barat. Dan juga mengurangi peruntukan lahan untuk permukiman dari lahan pertanian untuk menjaga kestabilan produksi padi. Dibutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai kaitan jumlah produksi padi dengan geomorfologi Jawa Barat sehingga didapatkan gambaran yang lebih terperinci.

DAFTAR PUSTAKA

 

BPS Provinsi Jawa Barat. 2008. Provinsi Jawa Barat dalam Angka 2007. BPS.

 

Getis, A., J. Getis, dan Fellmann. 2000. Introduction to Geography. 7th edition. Mc Graw Hill.

 

Pannekoek. 1939. Out Line of The Geomorphology of Java. Terj. Basri, Budio. Jurusan Geografi FMIPA UI.

 

Sandy, I Made. 1996. Geografi Regional Republik Indonesia. Cetakan 3. Jakarta : PT Indograph Bakti.

 

Zen, M.T. 1984. Sumber Daya dan Industri Mineral. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

 


[1] Lampiran Peta Total Produksi Padi Tahun 2007

[2] Lihat Lampiran Data Statistik Pertanian Provinsi Jawa Barat

 

LAMPIRAN

 

untitled

Geografi

Geografi Kesehatan dan Kolera di Peru

1. Geografi Kesehatan

 

Geografi kesehatan merupakan bagian dari ilmu geografi yang khusus mempelajari topik-topik yang berhubungan dengan masalah kesehatan. Geografi kesehatan menggunakan konsep dan teknik dari disiplin ilmu geografi dalam menjelaskan suatu fenomena di bidang kesehatan. Salah satu konsep yang dominan dalam geografi kesehatan yaitu mempelajari hubungan antara manusia dan lingkungannya secara holistik dan melihat interaksi antara manusia dengan beragam budayanya masing-masing dalam biosfer yang berbeda.

Penggunaan metode geografi dalam geografi kesehatan lebih kepada analisis spasial. Dimana kejadian penyakit terjadi, apa penyebabnya, bagaimana penularannya, cara penanggulangannya, merupakan beberapa pertanyaan yang harus dijawab secara komprehensif melalui analisis spasial. Peta sebagai alat peraga, dapat memperlihatkan sebaran kejadian penyakit yang ada sehingga bisa menunjukkan distributional pattern dari fenomena kejadian penyakit dan hubungannya dengan fenomena fisik permukaan bumi ataupun aktivitas manusia sehingga dalam mencari pemecahannya dapat dijawab dengan holistik.

Penelitian awal yang menghubungkan antara geografi dengan epidemiologi dibuat pada pertengahan abad ke-19 oleh Dr. John Snow yang membuat peta sebaran penderita kolera yang disebabkan oleh tercemarnya sumur umum di London. Hasil dari peta memperlihatkan pengelompokkan penderita yang tinggalnya paling dekat dengan sumur umum tersebut. Hasil dari asosiasi spasial tersebut digunakan untuk mengurangi dampak kolera yang sudah mewabah di daerah tersebut dengan menutup sumur umum.

 

2. Geografi Kesehatan dan Kolera di Peru

Penyakit Kolera

Penyakit kolera merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri dengan masa inkubasi dalam tubuh manusia satu sampai dua hari. Bakteri kolera (Vibrio cholera) mempunyai lebih dari enam puluh serotipe, tetapi hanya serogrup 01 yang menyebabkan penyakit kolera. Bakteri kolera yang telah masuk tubuh (patogen) menggandakan tubuhnya di usus penderita. Bakteri ini amat peka pada temperatur yang tinggi, keasaman, dan kondisi kering. Cara penularannya yaitu ketika penderita mengonsumsi makanan atau air yang telah terkontaminasi oleh bakteri. Gejala yang dirasakan ketika sudah terkena yaitu mengalami diare berat dan muntah-muntah. Menurut beberapa penelitian, penyakit kolera banyak menyerang orang yang memiliki golongan darah O, namun sampai saat ini belum ditemukan apa hubungannya.

Bakteri kolera yang menyerang tubuh akan mengeluarkan racun yang menyebabkan dehidrasi. Hal ini akan sangat berbahaya dan efeknya akan sangat fatal. Kematian terjadi jika dehidrasi tubuh melebihi 50 % dari total cairan tubuh. Penanganannya, dengan ORT (Oral Rehydration Treatment) dan RIT (Rapid Intravenous Rehydration Therapy) untuk menghindari dari akibat fatal yang ditimbulkan, yaitu kematian. Selama abad 19, pandemi kolera terdapat di India. Selama pandemi ini, kolera mewabah sampai ke Benua Amerika.

Cholera Vibrio 01 memiliki dua tipe, yaitu tipe klasikal dan biotipe El Tor. Setiap biotipe masing-masing terdiri dari dua serotipe, Ogawa dan Inaba. Biotipe El Tor pertama kali ditemukan pada tahun 1960 pada jamaah haji di Mekah di sekitar pantai Laut Merah. Biotipe El Tor memiliki efek yang lebih rendah dibanding tipe klasikal yang lebih mematikan (satu diantara delapan kasus menderita El Tor dan satu dari dua kasus menderita biotipe klasikal). Pandemi yang terjadi di abad ke-20 ini merupakan pandemi ketujuh dan yang pertama karena diakibatkan oleh biotipe El Tor.

Kolera di Peru

Kejadian kolera di Peru teridentifikasi pertama kali pada Januari 1991 di Chancay, distrik di area pantai utara kota Lima. Setelah diidentifikasi ternyata disebabkan oleh Cholera Vibrio. Kasus yang disebabkan biotipe El Tor muncul kemudian di area sekitarnya. Epidemi dengan cepatnya menyebar dan dalam hitungan hari sudah mewabah ke seluruh area pantai di Peru.

Menurut pejabat terkait, Peru memiliki sistem suplai air yang buruk dan mengalami kelebihan populasi pada kota-kota yang mengelilingi kota pantai. Sehingga secara tidak langsung hal ini memengaruhi proses penyebaran penyakit kolera yang terjadi Peru. Banyak infrastruktur yang mengalami kerusakan, bahkan suplai air banyak terkontaminasi karena banyaknya pipa yang bocor.

Area pesisir di Peru merupakan daerah yang kering tetapi sungai-sungai yang mengalir dari pegunungan Andes digunakan untuk irigasi. Kepadatan penduduk yang tinggi dan suplai air yang sistemnya buruk membuat penyakit yang ditularkan melalui media air semakin merajalela, termasuk kolera. Keadaan akan bertambah buruk ketika sanitasi di permukiman tidak mendukung yang membuat penyakit kolera semakin menyebar. Di Peru, wilayah yang terkena kolera merupakan wilayah permukiman miskin. Hal ini semakin memperkuat korelasi antara penyakit kolera karena kemiskinan (sanitasi buruk dan pendidikan yang rendah).

Menyebarnya penyakit kolera di Peru dapat dijelaskan melalui keterkaitan iklim. El Nino merupakan arus panas yang datang dari utara ke selatan sepanjang pantai Amerika Selatan di Samudera Pasifik. Fenomena ini terjadi pada akhir Desember dan awal Januari 1991. Arus ini menghasilkan temperatur yang lebih tinggi dari biasanya di Samudera Pasifik. Ketika vibrio kolera berada di air yang dingin, ukurannya akan menyusut hingga 300 kali lebih kecil dari ukuran biasanya. Zooplankton, yang mendiami air yang dingin membawa vibrio kolera dalam jumlah besar. Akibatnya, air laut yang digunakan untuk membuat kolam di sekitar pesisir akan menginfeksi orang yang mengonsumsi produk-produknya seperti ikan dan lainnya. (Colwell, 2008).

Dari Peru, penyakit kolera menyebar dengan cepat ke negara-negara Amerika Latin lainnya. Difusi penyakit ini pun terus berlanjut hingga ke bagian selatan dan tengah Amerika Latin. Secara umum, tingkat kematian yang diakibatkan oleh kolera di Amerika Latin 1% dari penderita.

Daftar Pustaka

–    Arbona, Sonia & S. Crum. 1996. Medical Geography and Cholera in Peru. Sumber: http://www.colorado.edu/geography/gcraft/warmup/cholera/cholera_f.html

–    http://www.medterms.com/script/main/art.asp?articlekey=18879

–     http://www.cdc.gov/safewater/pub/pub/tauxe_r.htm

Geografi

SENSE OF PLACE KOTA BOGOR (anggi, 0606071185)

Karakteristik sense of place menurut Kevin Lynch terdiri dari lima macam. Kelima macam karakter tersebut yaitu landmark, jalur (path), pusat (nodes), daerah (district), dan batas (edges). Semua karakter tersebut merupakan representasi dari apa yang orang pikirkan mengenai suatu tempat yang dia kenal.

            Kota Bogor merupakan salah satu kota penyangga Jakarta selain Tangerang, Depok, dan Bekasi. Letaknya di Selatan Kota Jakarta memberi kesan tersendiri bagi Kota Bogor. Banyak penduduk yang menghabiskan waktu akhir pekan di Kota Bogor disamping hanya untuk lewat saja untuk meneruskan perjalanan ke Puncak.

            Sejak zaman kolonial, Kota Bogor merupakan tempat peristirahatan favorit bagi para Gubernur Jenderal Hindia Belanda ketika itu. Sehingga diberi nama Buitenzorg (yang berarti tempat rehat) yang merupakan cikal bakal kata Bogor. Salah satu unsur fisik yang membuat Bogor menjadi tempat favorit ialah suhu udaranya yang cukup sejuk karena berada di ketinggian 400an meter di atas permukaan laut selain tingginya curah hujan yang ada di Kota Bogor.

            Landmark Kota Bogor yang paling terkenal yaitu Kebun Raya Bogor (KRB). KRB terletak di jantung Kota Bogor yang berisi beragam macam tumbuhan dari seluruh dunia. KRB yang didirikan oleh Sir Stamford Raffles ini memiliki koleksi tumbuhan yang langka yaitu bunga bangkai. KRB dapat dijangkau dengan kendaraan umum baik yang datang dari stasiun kereta atau juga terminal bus. Koleksi tumbuhan yang ada di dalam KRB banyak diminati oleh penduduk baik dari kalangan biasa yang datang untuk mencari kesenangan atau juga dari kalangan peminaat tumbuhan seperti mahasiswa serta botanis baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.

            Kota Bogor memiliki jalan-jalan utama yang sering dilewati oleh kendaraan. Jalan-jalan tersebut diantaranya Jalan Raya Pajajaran dan Jalan Raya Tajur. Jalan Raya Pajajaran memanjang mulai dari pertigaan Ekalokasari kearah Utara hingga pertigaan Warungjambu. Sepanjang Jalan Raya Pajajaran banyak ditemukan kegiatan ekonomi berupa retail, pelayanan jasa, dan juga pendidikan. Beberapa tempat yang menarik di Jalan Raya Pajajaran yaitu Ekalokasari Plaza yang memiliki fasilitas beragam mulai hiburan hingga took buku yang lengkap.

            Dari pertigaan Ekalokasari kearah Tenggara hingga sampai pertigaan Ciawi merupakan Jalan Raya Tajur. Jalan ini merupakan satu-satunya jalan penghubung dari Kota Bogor menuju Puncak jika tidak melewati jalan tol Jagorawi. Jalan Raya Tajur juga merupakan pembatas fisik antara Kecamatan Bogor Selatan dan Bogor Timur. Mulai dari pertigaan Ekalokasari, di sepanjang Jalan Raya Tajur dapat ditemukan berbagai macam kegiatan ekonomi seperti pusat perdagangan tas, hiburan seperti Bioskop Galaxy, kegiatan industri, bengkel, dan usaha ekonomi penduduk setempat.

            Kota Bogor memiliki beberapa pusat perdagangan diantaranya terletak di sekitar KRB yaitu Pasar Bogor. Pasar ini merupakan pasar yang ramai dikunjungi oleh penduduk Bogor baik pada waktu siang maupun malam hari. Pada siang harinya pasar ramai dikunjungi oleh penduduk yang ingin ke plaza atau pasar untuk membeli kebutuhan sehari-harinya. Pada malam hari, kegiatan pasar beralih di sepanjang Jalan Suryakencana. Pada waktu malam, sayur-sayuran dijajakan di sepanjang jalan sehingga memberikan kesan tersendiri bagi para pengunjungnya.

            Kota Bogor memiliki beberapa daerah menarik yang dapat dikunjungi. Untuk ke tempat rekreasi dapat mengunjungi KRB. Untuk ke tempat pusat perbelanjaan dapat mengunjungi Ekalokasari Plaza, Botani Square, dan pusat perbelanjaan lainnya di sekitarnya. Pusat ekonomi dalam bentuk industri dapat ditemui di Jalan Raya Tajur. Industri yang terdapat di Jalan Raya Tajur diantaranya industri tekstil, industri tas, pabrik sendok, serta minuman ringan.

            Batas Kota Bogor dapat dilihat dari ciri-ciri yang dimiliki kota seperti pusat pemerintahan, pelayanan masyarakat, pusat kegiatan ekonomi, dan fasilitas tambahan lainnya seperti hiburan dan rekreasi. Pusat pemerintahan Kota Bogor terdapat di Jalan Juanda dimana terdapat Balaikota, Bappeda, pelayanan pajak, dan kantor DPRD. Pelayanan masyarakat yang ada seperti sekolah, rumah sakit, dan bank berada dekat dengan Balaikota Bogor. Pusat ekonomi Kota Bogor dapat ditemukan di sepanjang Jalan Pajajaran.

Geografi

Permasalahan Kota Magelang

PENDAHULUAN

Kota merupakan perkembangan dari desa. Di kota terdapat permukiman yang memusat dan memiliki karakter yang multifungsi, termasuk central business district (CBD) (Getis et al, 2000). Penggunaan tanah yang dominan di kota didominasi oleh kegiatan pelayanan jasa dan juga permukiman. Usaha  pertanian di kota bisa ada, namun biasanya luasannya lebih kecil dibanding dengan yang digunakan sebagai permukiman, pelayanan jasa, serta perdagangan.

 

Dari sisi demografi, jumlah penduduk di suatu kota biasanya memiliki jumlah penduduk yang lebih banyak dibandingkan dengan penduduk di desa. Hal ini terjadi karena di kota terdapat akses dan fasilitas yang lebih banyak dibandingkan yang ada di desa sehingga banyak terjadi perpindahan penduduk dari desa ke kota (urbanisasi). Proses ini membuat suatu kota menjadi lebih heterogen dan kompleks akan permasalahan yang ada akibat urbanisasi. Tak jarang, banyak kita temukan orang yang hidup di sembarang tempat dalam kota akibat kurangnya keahlian yang dimiliki olehnya. Kemunculan masalah lebih jauhnya bisa berdampak di segala bidang baik dalam bidang sosial, budaya, dan juga lingkungan.

Kemunculan permasalahan yang ada di kota tentunya memiliki dampak negatif yang merugikan. Salah satunya yaitu ketika jumlah penduduk bertambah akan banyak terjadi masalah sosial kependudukan di suatu masyarakat. Diantara banyak masalah tersebut yaitu masalah kemiskinan, ketidakadilan, kekurangan perumahan, penggunaan obat-obatan terlarang, tindak kekerasan, pengangguran, pelayanan umum, hingga permasalahan lingkungan.

GAMBARAN SINGKAT KOTA MAGELANG DAN PENDUDUKNYA

Kota Magelang merupakan salah satu daerah tingkat II yang terletak di tengah wilayah Kabupaten Magelang dan terletak antara 110o12’30’’ dan 110o12’52’’ BT dan 7026’18’’ dan 7o30’9’’ (BPS, 2007). Kota Magelang diapit oleh dua gunung yaitu Gunung Merbabu yang terletak di sebelah timur laut dan Gunung Sumbing di sebelah baratnya. Kota Magelang terdiri dari tiga kecamatan yaitu Kecamatan Magelang Utara, Magelang Tengah, dan Magelang Selatan. Dari ketiga kecamatan ini terbagi menjadi 17 wilayah kelurahan/desa.

Jumlah penduduk Kota Magelang pada tahun 2007 berjumlah 121.010 jiwa yang terdiri dari 58.680 jiwa laki-laki dan 62.330 jiwa perempuan dengan rasio penduduk 106%. Hal ini menunjukkan jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibandingkan dengan jumlah laki-laki. Laju pertumbuhan penduduk pada 2007 sebesar 1,99% dibanding dengan jumlah penduduk pada 2006 yang berjumlah 118.646 jiwa. Jumlah penduduk paling tinggi terletak di Kecamatan Magelang Tengah yang berjumlah 46.789 jiwa, sedangkan yang terendah terletak di Kecamtan Magelang Utara yang berjumlah 34.289 jiwa.

Kepadatan penduduk tiga kecamatan di Kota magelang yang tertinggi terdapat di Kecamatan Magelang Tengah dengan kepadatan 9.197 jiwa/km2 sedangkan kecamatan yang paling rendah kepadatannya yaitu di Kecamatan Magelang Utara dengan kepadatan 5.595 jiwa/km2. Dengan melihat dari jumlah penduduk tersebut kita bisa tahu bahwa pusat kegiatan Kota Magelang terdapat di Kecamatan Tengah. Berdasarkan dengan data jumlah rumah di tiga kecamatan yaitu 29.361 rumah, rata-rata rumah yang berada Kota Magelang menempati empat orang dalam satu rumah.

Fasilitas pelayanan umum merupakan sarana yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Fasilitas pelayanan umum ini dapat berupa rumah sakit, puskesmas, dan tempat ibadah. Di Kota Magelang, jumlah rumah sakit yang ada berjumlah sembilan buah sedangkan jumlah puskesmas, sebagai sarana kesehatan di tingkat kecamatan, berjumlah 16 termasuk puskesmas pembantu. Di sisi lain, jumlah tempat ibadah di Kota Magelang berjumlah 133 masjid dan 32 gereja.

PEMBAHASAN

Penduduk di Kota Magelang terkonsentrasi di bagian tengah kota. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya jumlah penduduk yang menempati Kecamatan Magelang Tengah. Selain itu Kecamatan Magelang Tengah juga memiliki tingkat kepadatan tertinggi dibandingkan dengan dua kecamatan lainnya. Banyaknya jumlah penduduk yang berada di Kecamatan Magelang Tengah ini tidak diimbangi dengan jumlah fasilitas layanan umum seperti rumah sakit. Rumah sakit yang berada di Kecamatan Magelang Tengah hanya berjumlah dua rumah sakit, yang berada di Kelurahan Kemirirejo dan Cacaban. Ketimpangan antara jumlah rumah sakit dan jumlah penduduk tentunya bisa menimbulkan masalah yang serius  terutama ketika suatu penyakit mewabah dalam satu waktu.  Di Kecamatan Magelang Utara dan Magelang Selatan, masing-masing hanya memiliki dua dan satu rumah sakit. Pelayanan kesehatan di tingkatan yang lebih rendah ditunjang oleh puskesmas yang tersebar di masing-masing kecamatan. Total puskesmas pusat berjumlah lima, yang terbagi di Kecamatan Magelang Selatan dan Magelang Utara, masing-masing berjumlah tiga dan dua puskesmas.

Pelayanan umum di bidang peribadatan tergolong cukup baik. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah tempat ibadah yang ada di ketiga kecamatan di Kota Magelang. Jumlah masjid di Kecamatan Magelang Selatan, Magelang Tengah, dan Magelang Utara masing-masing berjumlah 40, 41, dan 52 buah. Sedangkan jumlah fasilitas ibadat gereja untuk kecamatan yang sama berjumlah enam, 14, dan 10 buah. Dengan jumlah tempat ibadat sebanyak itu dapat ditarik kesimpulan bahwasanya pelayanan umum di Kota Magelang di bidang keagamaan berlangsung baik.

Kota Magelang memiliki pengangguran sejumlah 3.428 jiwa. Hal ini berarti sekitar 8,2% orang masih menganggur mencari pekerjaan. Jika dilihat dari pembagian tingkat pendidikan bagi para pengangguran, didapat angka tertinggi bagi para pengangguran yaitu para lulusan universitas sejumlah 1.193 jiwa sedangkan jumlah yang terendah sebesar 7 jiwa (lulusan SD). Jumlah pengangguran lulusan universitas pada tahun 2007 meningkat dari sebelumnya pada tahun 2006 berjumlah 1097 jiwa. Hal ini berarti terjadi kenaikan jumlah pengangguran yang berpotensi mengakibatkan kerawanan-kerawanan social di dalam masyarakat. Jumlah prosentase pengangguran relatif kecil jika dibandingkan dengan pengangguran yang terdapat di kota-kota besar di Indonesia. Namun, jumlah tersebut jika dibiarkan tentunya akan semakin menambah persoalan penduduk di suatu kota. Jumlah pengangguran yang banyak akan mengundang kerawanan-kerawanan sosial seperti kemiskinan hingga tindak kriminalitas yang muncul akibat pengangguran. Sesuai dengan pernyataan Thomson (1984) dimana kemiskinan pada awalnya akan muncul dari kota-kota kecil, hal ini berpotensi terjadi di kota-kota seperti Magelang.

Dalam permasalahan kriminalitas, dalam data statistik tidak dirinci jenis kejahatannya seperti obat-obatan terlarang atau kekerasan. Dalam data hanya dicantumkan jumlah terdakwa yang diadili di pengadilan. Berdasarkan data BPS 2007, jumlah kejahatan, yang dalam hal ini diwakili dari jumlah terdakwa pada tahun 2007, berjumlah total 284 kasus. Sedangkan pelanggaran di jalan raya pun cukup tinggi, yaitu pelanggaran roda dua atau lebih berjumlah 2.607 kasus dan pelanggaran roda dua berjumlah 9.349 kasus. Dari penyajian fakta di atas, Kota Magelang masih menemui kendala dalam bidang kriminalitas pada jenis pelanggaran lalu lintas dan pelanggaran dalam masyarakat. Dari kedua data gambaran di atas, ternyata Kota Magelang, dalam perkembangannya menemui permasalahan umum yang dihadapi oleh kota-kota lainnya di Indonesia.

Dari data yang didapatkan penulis, data kemiskinan Kota Magelang tidak terdapat dalam data statistik.

Penggunaan tanah yang ada di Kota Magelang teridiri atas pekarangan 72,7 % luas total, industri 2,87%, pertanian 18.75 % dan penggunaan tanah lainnya berjumlah 5,68%. Untuk tanah pertanian, dibagi lagi klasifikasinya seperti sawah 64,04%, perkebunan 29,92%, tegalan/ladang 4,04%, dan kolam 2,01%.  Berdasarkan data luasan penggunaan tanah tersebut di atas, dapat kita lihat bahwa Kota Magelang masih memiliki proporsi penggunaan tanah pertanian yang cukup luas yaitu sebesar 18,75%. Padahal luas penggunaan tanah terbesar ialah pekarangan yang prosentasenya melebihi 70%. Besarnya luasan tanah pekaranngan ini bisa dikembangkan menjadi potensi dalam pengembangan pertanian yang lebih luas. Dengan munculnya usaha pertanian yang baru akan menurunkan tingkat pengangguran di Kota Magelang yang jumlahnya mencapai 8,2%. Tentunya hal ini bias dijadikan sebagai solusi alternatif dalam usaha mengurangi jumlah pengangguran di Kota Magelang.

RINGKASAN

Kota Magelang merupakan salah satu daerah tingkat II yang terletak di tengah wilayah Kabupaten Magelang yang terdiri dari tiga kecamatan yaitu Kecamatan Magelang Utara, Magelang Tengah, dan Magelang Selatan. Dari ketiga kecamatan ini terbagi menjadi 17 wilayah kelurahan/desa.

Penduduk Kota Magelang terkonsentrasi di bagian tengah kota yang ditunjukkan dengan tingginya jumlah penduduk di Kecamatan Magelang Tengah. Hal ini pun bisa dilihat dari tingkat kepadatan penduduk yang mencapai 9.197 jiwa/km2. Kondisi kerawanan social di Kota Magelang tidak ada data rinci pastinya, namun jika dilihat dari variabel yang mungkin menjadi potensi kerawanan sosial seperti pengangguran dan jumlah kasus di pengadilan, bisa menjadi gambaran bahwasanya Kota Magelang memiliki permasalahan-permasalahan tersebut.

DAFTAR BACAAN

  • BPS Kota Magelang. 2007. Kota Magelang Dalam Angka 2007.
  • Getis, Getis, dan Fellman. 2000. Introduction to Geography. 7th ed. New York : McGraw Hill.
  • Koestoer, R.H. et al (eds). 2001. Dimensi Keruangan Kota. Jakarta : UI press.
  • Thomson, M.A. 1984. Urban Poverty and Basic Needs: The Role of Public Sector. Dalam Urban Poverty and Basic Needs oleh Richard, P.J. & A.M. Thomson (eds). Kent: Beckenham.