Rumah Adat Lamin

Akhirnya di Bulan Maret lalu saya menginjakkan kaki kembali untuk kedua kalinya di Borneo karena mendapatkan tugas dinas dari kantor. Masih sama kesan saya saat kunjungan pertama kalinya, cuaca di sini sangat panas. Dan pada kunjungan kali ini saya memang mengagendakan untuk mengunjungi beberapa tempat menarik yang bisa dijadikan hiburan sejenak di pedalaman Kabupaten Kutai Barat.

Kunjungan ke Lamin menjadi salah satu prioritas pertama saya karena sangat penasaran dengan bentuk dari rumah adat suku Dayak ini. Saya dan satu orang kawan mengunjungi Rumah Adat Lamin Mancong yang berada di Kecamatan Mancong. Secara astronomis, terletak di 00o32’02’’ LS dan 116o04’43’’ BT.


Lamin

Rumah adat Lamin ini terletak di tengah perkampungan Suku Dayak Benuaq dan rumah adat ini merupakan salah satu tujuan lokasi kunjungan para wisatawan terutama yang berasal dari luar negeri. Menurut penduduk, hampir setiap harinya Lamin dikunjungi oleh para bule yang penasaran dengan bentuk rumah adat ini. Bahkan tidak jarang, akan dilakukan upacara penyambutan bagi pengunjung yang akan diselenggarakan oleh penduduk sesuai dengan permintaan pengunjung yang bersangkutan. Sayangnya, saat saya berkunjung hanya ada dua orang yaitu saya dan teman saya. Bahkan sang juru penjaga Lamin pun sedang tidak berada di tempat. Walhasil akhirnya kami berdua saja yang menjelajahi, masuk, keluar, menyusuri ruangan, dan tak lupa untuk mengabadikan gambar dengan menggunakan kamera saku.

Rumah lamin ternyata berukuran besar. Tak heran jika dahulu sebelum diresmikan sebagai Lamin adat (diresmikan tahun 1987), rumah ini dihuni oleh tak kurang dari 12 kepala keluarga yang hidup bersama dalam satu rumah. Menurut pengamatan, panjang rumah Lamin ini sekitar 30 meter dan lebar 15 meter (kira-kira lho). Pada bagian muka Lamin berdiri dengan gagahnya totem-totem khas dayak yang berbeda-beda antara satu patung dengan patung lainnya. Ada yang berupa lelaki dengan binatang anjing, wanita memakai kain, serta bentuk semi-abstrak lainnya yang mungkin agak serupa dengan totem-totem khas suku Indian. Hanya saja totem disini tidak berwarna alias alami. Bisa jadi fungsi dari totem-totem ini yaitu untuk mengusir roh-roh jahat mengingat kepercayaan suku dayak yang masih percaya dengan kekuatan-kekuatan gaib atau animisme.

Bahan utama bangunan rumah adat Lamin adalah kayu ulin atau banyak orang yang menyebutnya sebagai kayu besi. Disebut kayu besi karena memang jenis kayu tersebut adalah kayu yang sangat kuat. Bahkan banyak orang mengatakan jika kayu ulin terkena air maka justru tingkat kekuatannya akan semakin keras. Mungkin hal inilah yang membuat banyak orang yang membangun rumah di atas dataran rawa atau pinggiran sungai namun tahan lama umur bangunannya. Selain bangunan, totem-totem yang ada di bagian depan Lamin juga terbuat dari bahan kayu ulin. Menurut saya pribadi, bangunan yang terbuat dari bahan kayu ulin memiliki kesan mewah karena warna hitam khasnya. Hanya saja menurut penduduk sekitar saat ini agak sulit untuk mencari pohon ulin karena ada alih konversi lahan serta perambahan hutan-hutan.

Di bagian dalam lamin terdapat beberapa alat yang biasa digunakan dalam melakukan upacara adat tertentu. Sayangnya karena tidak ada guider, akhirnya kami hanya berjalan-jalan saja menjelajahi isi Lamin. Di bagian dalam Lamin sempat kami lihat ada beberapa tengkorak kepala kerbau yang bertuliskan tanggal waktu. Menurut saya tanggal tersebut menunjukkan kapan seseorang tersebut meninggal. Dan juga Saya yakin tengkorak tersebut adalah bagian dari upacara melepas kematian yang biasa dilakukan oleh suku Dayak. ‘Menyembelih’ kerbau adalah rangkaian puncak dari upacara Kuangkai (lihat postingan saya sebelumnya) yang dilakukan untuk upacara kepergian seseorang yang telah meninggal).

totem dan kayu ulin

         #tanjungisuy19032012           

About these ads

2 gagasan untuk “Rumah Adat Lamin

  1. desain rumah sederhana

    Indonesia memang sangat kaya akan seni budaya, termasuk rumah adat. Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki adat istiadat yang berbeda termasuk rumah adat. Taman Mini Indonesia Indah (TMII) merupakan gambaran minimalis rumah adat, beruntung TMII sudah dibangun sehingga anak-anak dapat mengenalnya walaupun tidak melihat aslinya.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s