Pentas MTQ

Gambar diambil pada saat perhelatan lomba MTQ di Kabupaten Langkat. Berlokasi di lapangan tempat evakuasi kecelakaan pesawat beberapa bulan yang lalu. Pentas utama dibuat menyerupai sebuah kapal yang gemerlap oleh cahaya lampu. Melihat dekorasi yang ada, seperti terbawa suasana masa kecil saat menyaksikan dekorasi serupa di Dufan Ancol.

#bahlias21022012

Walking has become my daily habit everyday to go to my office. It only about 370 meters length and usually it takes time only 5 minutes. No matter how near the distance is, I notice certain unique phenomenon from it.

Since I have been obtained my lesson at university, our lectures always said and remind us about space, space, and space. One of them even often said “think globally, act locally” or “be spatial to be special”. So, it means since I enrolled to university, our lectures have created “doctrine” to us for always thinking spatial. Spatial related to space. Space located above the earth surface. In a nutshell, we study about “place matters” and “place awareness” should be placed always in our mind.

The phenomenon which I have said in the first paragraph, must be related to space. But, what kind of phenomenon do I found in my daily walking to office? It related to something which driven the absorption of water. It is slope.

For 200 meters length from multihousing, place where I lived, it is plain terrain. The road formed from hardening process which have sandy textures. This is my favourite tracking route as well.

plain

Plain

The next segment’s route rather different from the previous one. For about 90 meters length distance, it has more gradient approximately 35 degrees slope (I have not take the picture yet).

The third segment, is the same for the first one. It has flat slope but narrower than the previous segments. The road take place in the center which are lake in the left side and small swamp in the right side. It would be better to watch your step in this segment. I have ever met phyton snake, biawak, and ayaman. This area is their suitable place for live.

2nd segment

The fourth segment is the most different one. It has high gradient of slope degrees. I assume it has about 50 degrees of slope gradient and only about 25 meters length (flat distance).

4th segment

Although in the fourth segment has only the shortest path, it has the most beautiful view than the others. This picture below is my favorite spot to look the Bah Lias lake.

Nice view

The last segment has the flat one and nothing special because the path is the nearest path from my office. It only has about 55 meters length.

#bahlias13022012

Membaca akhirnya menjadi aktifitas yang menyenangkan bagi saya selama bekerja di lingkungan perkebunan sawit. Apa pasal? Hanya dengan membacalah kita bisa menambah wawasan keilmuan dan juga sebagai pengisi waktu yang sangat bermanfaat di sela-sela waktu yang kosong.

Novel terakhir yang saya baca yaitu Bait-bait Suci Gunung Rinjani buah karya Khairul “Ujang” Siddiq. Novel tersebut terbitan Dian Rakyat tahun 2009. Pada sampul depan novel terdapat tulisan ‘Novel yang lahir dari jalanan’ yang akhirnya membuat saya penasaran untuk membaca novel tersebut.

Secara garis besar, alur cerita dari novel tersebut sederhana yaitu bercerita tentang kehidupan seorang Fajar, lulusan pesantren yang menyukai hiking sebagai sarana untuk bersyukur kepada Tuhan. Rangkaian alur cerita menyajikan potret pemuda mandiri yang memiliki pengetahuan agama dan mengamalkannya di dalam kehidupannya secara konsisten. Tampaknya penulis ingin menitikberatkan pada aspek dakwah dalam setiap alur cerita yang disajikannya.

Menurut saya, nilai moral yang ingin disampaikan oleh penulis kepada pembaca yaitu bagaimana seharusnya seorang muslim mengimplementasikan dan mengejawantahkan nilai-nilai Islam yang telah terintegrasi secara kultural (terutama agama warisan) secara konsisten. Penulis menyampaikan dan menyajikan kejadian-kejadian tersebut dalam praktik yang sederhana dan jamak terjadi dalam kehidupan remaja/pemuda terutama dalam konteks percintaan.

Selebihnya jika ingin mengetahui lebih lanjut jalan cerita dan petualangan Fajar sila saja baca novelnya dari awal halaman hingga akhir halaman. Nikmati rangkaian cerita yang sederhana namun sarat makna dengan nilai-nilai dakwah di setiap peristiwa yang diceritakan. :)

#bahlias17012012

BLRS' Young Guns

Ada pertemuan dan pasti ada perpisahan. Kami sengaja untuk berfoto ria karena akan ada salah seorang kawan, yakni Brian yang sempat berkeliling Ghana,  yang akan melanjutkan karirnya di perusahaan perkebunan milik BUMN.

#bahlias14012012

During the recent decade, the use of data taken from remote sensing has been widely developed for many aspects in plantation. Begin with the application for mapped the field and plantation until the use of multi/hyperspectral censors for further application. The development of remote sensing application in plantation, generally agriculture, encourage the multi-disciplinary related science which later known as Precision Agriculture.

In precision agriculture, intervention of ge0-related science such as Geography, Geodesy, GIS and Agricultural science like Agronomy, Crop Protection, Plant Breeding are clearly visible in actual application. From various articles and journals related to precision agriculture that I have read, mostly the themes of them are related to the utilization of data from remote sensing. Due to its practicability and easiness of temporal acquisition, remote sensing data also show the accurate and precise result for identify and give the solution for agricultural problems.

Oil palm plantation play major role important in economic aspect in Indonesia. As the second largest (cmiiw) exporter of crude palm oil in the world, it is not surprising if there are a lot of plantation which owned by government or private. There are also many seed producer which have best quality such as SumBio, PPKS, etc.  The most important also, many of the plantation company in Indonesia which have utilized GIS as a decision support tools, mostly used for mapping their estate and for research purpose.

Using satellite imagery is one of various methods to get the spatial data, for example for mapping the estate. We can easily digitize the feature like main road, block road, field boundary, river, and many more. Estate mapping is essential for getting the basic data from remote sensing data. Besides, ground checking is also needed for taking the data which we could not get from satellite imagery such as if the area covered with cloud or its shadow. So, the combination source of data taken both from remote sensing and ground checking will improve the accurate and precise measurement.

Recent mapping related to oil palm plantation has a significantly shifting from only estate mapping to more detail mapping. As oil palm trees are valuable asset of the company, it is necessary for monitoring them individually. It has been done in oil palm company to monitor individual palm especially for research purposes which are related to pathology or daily census trees. Therefore, the same of how the data should be taken which previously described in the paragraph before, is absolutely can be applied. But because each of individual palm tree has absolute location, which represent in center point of its tree, it is better to use differential GPS receiver if the data taken from ground checking. Why this should be done? It is precision matter. Data with no differential post-processing have less accuration than using post-processing calculation.

Palm points classification from satellite imagery

Further development by multispectral bands or hyperspectral bands made the application of remote sensing in agriculture valuable. Recent research shows that there are corelation between near-infrared bands in multispectral with the leaf nutrients like nitrogen, magnesium, phosphorus, and sulfur so that with remote sensing data we can detecting and make prediction for nutrients management such as fertilizer recommendation and nutrients deficiency management. It also can be applied in pathology since Ganoderma became the major problems in every oil palm plantation in Indonesia. The oil palm trees which suffered from Ganoderma show stress on their leaves so we can detect the spread of oil palm trees  by using the vegetation index such as NDVI, GBNDVI, SR, etc.

#bahlias12012012

 

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

A New York City subway train holds 1,200 people. This blog was viewed about 4,400 times in 2011. If it were a NYC subway train, it would take about 4 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

Kembang api

Kembang api

Akhirnya malam pergantian tahun telah lewat dan resmi mulai hari ini kita sudah hidup di masa tahun 2012. Sudah pasti banyak orang yang merayakannya dengan suka cita. Saya teringat dengan perayaan tahun baru pada tahun-tahun sebelumnya di Bogor, di mana pasti terjadi kemacetan yang tak terkira. Banyak orang yang menuju kawasan Puncak untuk sekedar menikmati hawa sejuk pegunungan. Akibatnya, Jalan Raya Tajur sebagai poros utama jalur menuju Puncak, selain Tol Jagorawi, walhasil tumpah ruah oleh berbagai kendaraan bermotor terutama yang beroda dua. Pernah sekali waktu saya akhirnya memutuskan untuk turun dari angkot dan berjalan kaki dari Biotrop sampai rumah karena jalan benar-benar ‘stuck in jam’, tersumbat sama sekali sehingga tidak ada yang bisa berjalan. Diantara sekian sebab itulah, selama ini saya memang tidak pernah mengagendakan acara khusus untuk tahun baru.

Tahun baru ini memang berbeda dengan sebelumnya. Yang pasti, ketika terjadi penggantian tahun tadi malam lokasi saya berbeda dengan lokasi yang saya tempati pada pergantian tahun pada tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya saya berada di sekitar lintang 6 dan bujur 106, maka saat ini saya berada di sekitar lintang 3 dan bujur 99. Hampir tidak ada bedanya perayaan tahun di mana pun. Suara terompet, petasan, dan kembang api seakan menjadi rukun tahun baru yang dilangsungkan di berbagai belahan dunia manapun.

Hampir sama dengan pergantian tahun-tahun sebelumnya, saya memang tidak punya agenda khusus untuk merayakan. Hanya berada di kamar mes dan bergumul dengan laptop yang terkoneksi dengan dunia maya. Tadinya saya sudah akan menyelesaikan beberapa pekerjaan di malam tahun baru dan sayangnya takdir berkata lain. Jam 8 malam, ternyata sudah tertidur lelap dan hanya sesekali bangun ketika jam 12 malam, saat terdengar petasan dan suara terompet, selebihnya melanjutkan tidur yang sungguh terasa nikmat.

Dunia ‘social media’ sudah pasti statusnya bertemakan tahun baru. Kita bisa membaca berbagai ungkapan, harapan, dan doa dari teman-teman kita yang rajin mengupdate statusnya baik di facebook, twitter, plurk, dan sederet lainnya. Ada juga yang statusnya menarik perhatian saya karena amat menggugah. Seorang kawan yang solih mengupdate statusnya yang kurang lebih berisi seperti ini, “Tidur terbangun akan bisingnya suara gegap gempita kembang api. Dahsyat. Mirip Gaza kala dibombardir Zionis saja”. Saya cukup tersentak karena sungguh mengingatkan akan kondisi saudara-saudara kita di Gaza. Jika kita merayakan tahun baru dengan suka ria di sini dan di kota besar dengan suara kembang api yang gegap gempita, maka mungkin bagi saudara kita di Gaza suara-suara tersebut adalah hal yang biasa di tiap-tiap malam mereka, bahkan mungkin bersuasana mencengkam. Sungguh, mudah-mudahan saya menjadi lebih bersyukur dengan kondisi yang saya alami sekarang dan tidak termasuk orang-orang yang mmeubazirkan hartanya untuk sesuatu yang tidak begitu perlu. Tahun baru bukan saja untuk perayaan baru, tetapi juga bagaimana kita membentuk mental yang lebih baru.

Sumber Gambar di sini

#bahlias01012012

I found many people in social networking media like facebook and twitter yelled and generally happy to face the new years which will come for 2 days from now. The trully facts which will happen in the next two days is our age reduce days by days, weeks by weeks, months by months, and years by years. So, what will you do in the next year?
Many people always talk about resolution  for facing the new years. This is not bad and we should to arrange if necesarry. The question is how to define your resolution?
To answer above question, I hope this link will benefit for those of you who will arrange your goals in the next following years.I have read this and, I hope I can define my own resolution.

Here is the link: 5 Keys to Making and Keeping Your New Year Resolutions

#bahlias30122011

R

Rumah panggung

Semenjak menginjakkan kaki di Pulau kalimantan, ada hal yang saya perhatikan mengenai tempat tinggal para penduduk setempat. Hal ini bisa kita temukan tidak hanya di perkotaan tetapi juga di pelosok. Justru memang di pelosok lebih mudah bagi kita untuk menemukannya. Apakah itu?

Ya, sesuai dengan judul postingan di atas kita dengan mudahnya menemukan Rumah Panggung dimana-mana. Foto pada gamabr di atas, diambil ketika saya mengunjungi perkampungan Dayak Benoa di Desa Dingin. Walaupun bernama Desa Dingin, suhu udara disini tidak sedingin namanya. Berdasarkan pengamatan saya, hampir kebanyakan pola permukiman disini memanjang mengikuti alur sungai. Adapun Desa Dingin berada di pinggiran Sungai Kedang yang merupakan salah satu dari anak Sungai Mahakam.

Mengapa pola permukiman memanjang mengikuti alur sungai?

Berdasarkan pengamatan saya, sungai di sini merupakan jalur transportasi yang vital untuk pergerakan penduduk. Hampir setiap hari kita bisa melihat hilir mudiknya penduduk yang melintasi sungai menggunakan Taksi (demikian penduduk sini menyebutnya), yakni perahu motor yang mengangkut penumpang atau menggunakan Ketinting (ukurannya lebih kecil daripada Taksi). Sehingga, dengan pertimbangan kemudahan untuk menjangkau sungai sebagai jalur utama transportasi itulah yang membuat pola permukiman di Desa Dingin mengikuti alur sungai. Adapun kata Ketinting pertama kali saya dengar dari teman seangkatan, Dicky, yang melakukan penelitian skripsinya di Kota Samarinda pada tahun 2010.

Rumah Panggung

Ketika melihat deretan rumah panggung, satu pertanyaan yang melintas dalam benak saya adalah ‘mengapa harus rumah panggung’? Pertanyaan ini bisa saya jawab ketika melintasi deretan rumah panggung yang berjejer di sekitar Tenggarong. Rumah panggung yang saya lihat kebanyakan berdiri di atas rawa. Ya, rawa merupakan wilayah yang lebih rendah dari sekitarnya sehingga hampir pasti dapat kita temui genangan air. Jawaban sementara tersebut akhirnya bertahan sampai akhirnya  tiba di tempat yang lebih terpelosok, tepatnya di Tanjung Isuy.

Ternyata, tidak semua rumah panggung yang saya temui di Tanjung Isuy dibangun di atas rawa. Banyak rumah panggung yang dibangun di atas tanah datar yang bukan rawa (contohnya foto di atas). Untuk sementara jawaban sementara sebelumnya gugur. Dan akhirnya, saya mempertimbangkan aspek budaya untuk menjawab pertanyaan utama. Lamin, merupakan salah satu rumah adat suku Dayak yang berupa rumah panggung dan memanjang. Biasanya ditempati oleh lebih dari satu keluarga. Bermula dari kenyataan inilah akhirnya saya punya jawaban tersendiri yang merupakan gabungan dari jawaban sebelumnya.

Rumah panggung yang banyak didirikan oleh suku Dayak, bisa jadi dipengaruhi oleh keadaan fisik wilayah yang didominasi dataran rendah, terutama rawa. Hal ini kemungkinan menjadi salah satu faktor pemicu mengapa nenek moyang suku Dayak membangun rumah panggung. Seiring berjalannya waktu, pengetahuan ini pun diwariskan turun temurun sehingga masih tetap dipertahankan sampai saat ini. Gabungan antara faktor fisik dan budaya inilah yang menjadi jawaban saya dari pertanyaan ‘mengapa harus rumah panggung’.

#bahlias29122011

Tanjung Kerawang

Tanjung Karawang, seen from the south-west side

So much marshmallow up in the air :p

Marshmallow up in the air

Balikpapan, coas city

Balikpapan, coast city

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.